HONG KONG — Ketua UBS, Colm Kelleher, mengatakan Swiss tengah mengalami “krisis identitas” terkait perannya dalam industri perbankan global. Pernyataan itu disampaikan Kelleher saat berbicara di forum Global Financial Leaders’ Investment Summit di Hong Kong, Selasa.
Menurut Kelleher, Swiss—yang menjadi markas UBS—kini menghadapi persaingan yang semakin ketat di pasar manajemen kekayaan global dari pusat-pusat keuangan seperti Hong Kong dan Singapura, sebuah dinamika yang ia sebut belum pernah terjadi sebelumnya. Ia juga menyinggung melemahnya industri farmasi Swiss di tengah negosiasi tarif perdagangan.
“Swiss berada di persimpangan jalan karena sedang menghadapi sejumlah tantangan besar,” ujar Kelleher.
Pernyataan tersebut muncul ketika UBS mempertimbangkan kemungkinan memindahkan kantor pusatnya dari Swiss, menyusul usulan aturan modal baru dari pemerintah. Pada Juni, pemerintah Swiss mengajukan reformasi yang mewajibkan UBS—sebagai satu-satunya bank global yang tersisa di negara itu, dengan neraca keuangan sekitar dua kali lipat ukuran ekonominya—untuk menanggung modal penuh (100%) bagi anak usaha di luar negeri. Ketentuan ini meningkat dari aturan sebelumnya sebesar 60%, dengan tujuan mengantisipasi potensi kerugian di luar negeri.
Pada Juli, Reuters melaporkan UBS telah melakukan kajian rencana darurat dan menilai London sebagai salah satu alternatif terbaik apabila keputusan pemindahan markas benar-benar diambil.
Dalam kesempatan itu, Kelleher juga membandingkan arah kebijakan Swiss dengan Amerika Serikat, yang menurutnya memiliki regulasi lebih efektif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Ia mengkritik otoritas keuangan Swiss yang dinilai terlalu membatasi sektor perbankan, sehingga mendorong produk ke sektor shadow banking.
“Kita mulai melihat terjadinya arbitrase besar-besaran oleh lembaga pemeringkat di sektor asuransi,” ujarnya, merujuk pada pasar asuransi AS. Kelleher memperingatkan fenomena serupa pernah menjadi salah satu faktor yang memicu krisis subprime mortgage pada 2007.

