Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menilai ketidakpastian ekonomi yang bersumber dari faktor eksternal kerap mewarnai perekonomian nasional hampir setiap tahun. Namun, ia menyebut optimisme pertumbuhan tetap terbuka selama pemerintah mampu menjaga dan mengelola permintaan domestik.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya dalam acara LPS Financial Literacy di Medan, Rabu (20/8). Dalam keterangan tertulis yang diterima Kamis (21/8/2025), ia mengatakan Indonesia terbukti mampu melewati berbagai krisis ekonomi global ketika menggunakan pendekatan “kearifan lokal” atau local wisdom.
Menurut Purbaya, pendekatan tersebut telah diperkenalkan jauh sebelum Indonesia merdeka oleh Profesor Soemitro Djojohadikusumo pada 1943. Ia menyebut Soemitro, melalui disertasinya, mengenalkan trilogi pembangunan yang menekankan tiga pilar: pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerataan manfaat pembangunan, dan stabilitas nasional yang dinamis.
Dalam konteks trilogi itu, Purbaya menuturkan Soemitro menekankan pentingnya stabilitas perbankan. Soemitro disebut mengambil pelajaran dari peristiwa The Great Depression di Amerika Serikat serta dampaknya terhadap perekonomian Indonesia.
Purbaya menilai “jurus” local wisdom yang ia sebut sebagai Soemitronomics telah terbukti meredam dampak krisis ekonomi global. Ia mencontohkan krisis global 2008 akibat subprime mortgage di Amerika Serikat dan periode pandemi Covid-19 pada 2020–2021, ketika ekonomi Indonesia dinilai cepat pulih karena bertumpu pada permintaan domestik.
Ia mengatakan respons kebijakan ekonomi pada 2008 dinilai tepat karena aktivitas ekonomi tetap berjalan, ditopang ketersediaan likuiditas melalui pertumbuhan uang beredar. Purbaya juga menyebut situasi serupa terjadi saat pandemi, ketika pemerintah cepat mengubah dan merespons dengan pelonggaran secara terbatas, sehingga Indonesia keluar dari resesi dan kembali tumbuh positif.
“Pada 2020 juga kita pakai ilmu yang sejenis, karena sudah pintar yaitu menjaga domestic demand,” kata Purbaya.
Ia membandingkannya dengan krisis moneter 1997–1998. Menurut Purbaya, respons kebijakan saat itu membingungkan karena suku bunga naik hingga 60 persen, sementara uang beredar tumbuh lebih dari 100 persen. Dampaknya, pelaku usaha enggan meminjam ke bank akibat suku bunga tinggi, sedangkan uang beredar yang melimpah disebut digunakan untuk kembali menekan nilai tukar rupiah.
Dari tiga krisis tersebut, Purbaya menilai dua di antaranya—krisis global 2008 dan pandemi Covid-19—dapat dilalui dengan baik karena menggunakan pendekatan local wisdom. Sementara krisis 1998, menurutnya, menyisakan dampak yang dalam karena menggunakan “resep dari luar”.
Purbaya juga menilai target pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,4 persen sebagai angka yang realistis, terutama bila didukung kontribusi pertumbuhan dari daerah. Ia menyebut ekonomi yang bertumpu pada pasar, sawah, dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi penopang ekonomi nasional.
Terkait Sumatera Utara, Purbaya menilai perekonomian wilayah tersebut relatif lebih kuat dalam menopang perekonomian nasional. Ia menyoroti sektor perkebunan dan pariwisata sebagai sektor padat karya yang dinilai mampu menyerap banyak tenaga kerja.

