Harga emas diperkirakan masih bergerak fluktuatif dalam jangka pendek, namun peluang penguatan dinilai tetap terbuka seiring meningkatnya ketidakpastian global.
Berdasarkan data Bloomberg, pada akhir perdagangan Jumat (17/4), harga emas spot ditutup di US$ 4.830,34 per ons troi, naik 1,7% dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara itu, harga logam mulia bersertifikat Antam berada di level Rp 2.884.000 per gram pada Sabtu (18/4/2026).
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai harga emas berpotensi mengalami koreksi dalam jangka pendek. Ia memperkirakan level support pertama berada di US$ 4.703 per ons troi, dengan harga logam mulia domestik berpeluang turun ke Rp 2.838.000 per gram.
“Jika tekanan berlanjut, support berikutnya berada di US$ 4.441 yang dapat mendorong harga logam mulia turun ke sekitar Rp 2.785.000 per gram,” ujar Ibrahim, Minggu (19/4/2026).
Meski begitu, Ibrahim menyebut peluang kenaikan masih terbuka. Level resistance pertama berada di US$ 4.945 per ons troi, dengan harga logam mulia berpotensi naik ke Rp 2.898.000 per gram. Ia juga menilai, jika didukung sentimen fundamental, harga emas dunia berpeluang menembus US$ 5.000 dan bergerak menuju US$ 5.152.
Menurutnya, skenario tersebut dapat mendorong harga logam mulia domestik menembus Rp 3.100.000 per gram dalam waktu dekat.
Ibrahim menambahkan, pergerakan emas saat ini dipengaruhi empat faktor utama, yaitu geopolitik, dinamika politik Amerika Serikat, kebijakan bank sentral, serta perang dagang.
Dari sisi geopolitik, eskalasi konflik di Eropa Timur dan Timur Tengah disebut menjadi pendorong volatilitas pasar. Serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia serta respons Rusia terhadap negara-negara NATO dinilai meningkatkan ketegangan kawasan.
Di Timur Tengah, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada gencatan senjata sementara antara Lebanon dan Israel, serta dinamika hubungan Iran dan Amerika Serikat. “Jika terjadi gencatan senjata yang lebih luas, ini berpotensi menekan harga minyak, tetapi di sisi lain tetap memberikan sentimen positif bagi emas,” kata Ibrahim.
Selain geopolitik, arah kebijakan bank sentral AS dinilai menjadi faktor krusial. Ketidakpastian terkait suku bunga, ditambah dinamika kepemimpinan bank sentral, berpotensi menekan dolar AS. Namun, pelemahan dolar disebut tidak serta-merta memperkuat rupiah karena kondisi fiskal domestik, termasuk defisit anggaran yang melebar, dinilai dapat tetap menekan nilai tukar rupiah.
Dari sisi politik, dinamika di AS menjelang pemilu turut mempengaruhi sentimen pasar. Kebijakan Presiden Donald Trump serta ketegangan dengan otoritas moneter dinilai menambah ketidakpastian global.
Sementara dari sisi perdagangan global, potensi kembali memanasnya perang dagang pada pertengahan tahun juga disebut perlu diwaspadai investor.
Dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim menyatakan masih optimistis tren kenaikan harga emas berlanjut dalam jangka menengah. “Saya masih optimistis bahwa Rp 3.500.000 per gram untuk logam mulia akan tercapai,” ujarnya.