Harga emas terus menguat di pasar dunia seiring meningkatnya minat investor terhadap aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian global. Data Antam per 28 Januari 2026 mencatat harga emas mencapai Rp2,968 juta per gram.
Ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, Ph.D., menjelaskan penguatan harga emas terjadi karena sejumlah faktor. Salah satunya berkaitan dengan arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan pelemahan dolar AS. Menurutnya, pasar memperkirakan adanya penurunan suku bunga AS, yang berdampak pada melemahnya dolar dan meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven.
Selain faktor moneter, Wisnu menilai ketidakpastian geopolitik juga berperan besar dalam mendorong permintaan emas. Situasi global yang tidak stabil, mulai dari ketegangan militer hingga sanksi ekonomi, membuat emas dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko geopolitik.
Wisnu menambahkan, permintaan dari bank sentral dan Exchange Traded Fund (ETF) turut menopang kenaikan harga. Bank-bank sentral di negara berkembang disebut aktif menambah cadangan emas, sementara investor institusi semakin agresif membeli emas melalui ETF. Ia menyebut inflasi dan ketidakpastian pasar saham membuat emas dipilih sebagai pelindung nilai jangka panjang.
Jika kondisi ekonomi dan politik global belum stabil, Wisnu memperkirakan tren kenaikan harga emas masih berlanjut. Namun ia mengingatkan, penguatan dolar atau kenaikan suku bunga AS secara signifikan berpotensi menekan harga emas.
Wisnu juga memaparkan sejumlah alasan masyarakat memilih emas sebagai instrumen investasi, antara lain stabilitas nilai dan fungsi lindung inflasi, likuiditas tinggi karena mudah diperjualbelikan, serta perannya sebagai safe haven. Ia menilai emas fisik juga tidak memiliki risiko pihak ketiga, berbeda dengan obligasi atau aset digital yang mengandung risiko gagal bayar pihak lain.
Terkait pertanyaan apakah investasi emas akan terus stabil, Wisnu mengatakan secara historis harga emas cenderung stabil dan meningkat dalam jangka panjang karena relatif terlindung dari inflasi, deflasi, dan krisis ekonomi. Meski demikian, dalam jangka pendek harga emas tetap bisa berfluktuasi, biasanya merespons kebijakan suku bunga dan pergerakan nilai mata uang asing seperti USD, EUR, dan GBP.
Menurut Wisnu, gejolak politik dan ekonomi global mendorong masyarakat memperkuat portofolio melalui aset yang dinilai lebih stabil seperti emas. Ia menyebut meningkatnya minat terhadap emas juga dapat dibaca sebagai sinyal naiknya indikator ketidakpastian global, sekaligus respons investor terhadap dinamika kebijakan moneter dan upaya mencari aset yang lebih aman dari volatilitas.

