Bank Sentral Eropa (ECB) memutuskan mempertahankan suku bunga utama tidak berubah di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang dinilai membebani prospek inflasi dan ekonomi kawasan zona euro. Dalam keputusan terbarunya, suku bunga fasilitas deposito—instrumen yang digunakan bank sentral untuk mengarahkan kebijakan moneter—tetap di level 2 persen.
ECB menyatakan perang di Timur Tengah membuat prospek ekonomi “jauh lebih tidak pasti”, sekaligus memunculkan risiko kenaikan inflasi dan risiko perlambatan pertumbuhan. Ketidakpastian itu menguat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang disebut telah mengganggu pengiriman global, mendorong lonjakan harga minyak, dan mengguncang perekonomian dunia.
Dampak terhadap pasar energi terlihat pada pergerakan harga gas dan minyak di Eropa. Pada perdagangan awal Kamis, patokan TTF Belanda—acuan utama kontrak pasokan gas Eropa—melonjak lebih dari 30 persen menjadi 70,7 euro per megawatt-jam, sebelum turun ke sekitar 67 euro per megawatt-jam. Harga tersebut lebih dari dua kali lipat dibanding kisaran sekitar 32 euro per megawatt-jam sebelum konflik dimulai. Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai patokan internasional naik hingga di atas USD116 per barel pada perdagangan awal.
Dalam proyeksi terbaru yang dipublikasikan, ECB merevisi naik perkiraan inflasi dan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi terutama untuk 2026. Penyesuaian itu, menurut ECB, mencerminkan dampak global perang terhadap pasar komoditas, pendapatan riil, dan tingkat kepercayaan.
ECB memproyeksikan inflasi zona euro rata-rata 2,6 persen pada 2026, sedangkan pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan 0,9 persen. Bank sentral juga mengingatkan, tekanan harga dapat semakin kuat jika kenaikan harga energi menyebar ke inflasi non-energi dalam skala lebih besar dari perkiraan atau jika perang memperluas gangguan pada rantai pasok global.
Meski demikian, ECB menilai posisinya cukup kuat untuk menghadapi ketidakpastian tersebut, dengan mengacu pada ekspektasi inflasi jangka panjang yang masih terkendali serta ketahanan ekonomi. Di sisi lain, Kepala Makro Global ING Research, Carsten Brzeski, menilai perang di Timur Tengah telah mengubah situasi dan membuat ECB berada dalam kewaspadaan tinggi, sehingga wacana penurunan suku bunga berpotensi bergeser menjadi pertimbangan arah kebijakan yang berbeda.

