Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, mulai memicu efek berantai ke berbagai sektor. Salah satu dampak yang menonjol adalah kenaikan harga energi fosil, yang pada saat bersamaan membuka peluang bagi industri kendaraan listrik, khususnya produsen asal China.
Lonjakan harga minyak dunia mendorong banyak negara mencari alternatif energi yang dinilai lebih efisien dan stabil. Dalam situasi ini, kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) dipandang sebagai opsi strategis. Produsen mobil listrik China disebut berada pada posisi yang diuntungkan karena lebih dulu membangun ekosistem kendaraan listrik secara masif.
BYD menjadi salah satu pemain yang disebut merasakan dampak positif tersebut. Penjualan global BYD dilaporkan terus meningkat seiring naiknya minat terhadap kendaraan listrik di berbagai negara. Produk BYD dinilai menawarkan kombinasi harga yang kompetitif, teknologi baterai, serta efisiensi energi.
Perubahan tren ini juga tercermin dari langkah Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, yang memilih menggunakan BYD Sealion 7 untuk aktivitas resminya. Thai Enquirer, melalui unggahan di Facebook, menuliskan bahwa Anutin mengganti Rolls Royce miliknya dengan mobil listrik buatan China di tengah lonjakan harga minyak, sekaligus menjadikan dirinya panutan bagi pengendara.
Langkah tersebut dipandang bukan sekadar pilihan personal, melainkan sinyal pergeseran arah kebijakan energi. Di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), efisiensi energi menjadi perhatian, termasuk di tingkat pemerintahan.
Kondisi global ini turut berimbas pada pasar otomotif Indonesia. Sejumlah merek asal China yang berfokus pada kendaraan listrik memperkuat kehadirannya di Tanah Air. Selain BYD, Wuling Motors lebih dulu menghadirkan lini EV seperti Air ev dan BinguoEV. Chery juga mulai lebih agresif dengan model elektrifikasi.
Di sisi lain, DFSK melalui sub-brand Seres turut menghadirkan mobil listrik di Indonesia. MG Motor juga meramaikan pasar dengan model EV berbasis teknologi China. Sementara itu, GAC Aion disebut menunjukkan minat ekspansi ke pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Dominasi produsen China di sektor kendaraan listrik disebut ditopang sejumlah faktor, mulai dari penguasaan rantai pasok baterai, dukungan pemerintah, hingga kemampuan memproduksi mobil listrik dalam skala besar dengan harga yang lebih terjangkau dibanding kompetitor Barat.
Dengan situasi geopolitik yang belum stabil dan harga minyak yang berpotensi terus bergejolak, peralihan ke mobil listrik diperkirakan akan berjalan lebih cepat. Dalam kondisi ini, produsen mobil listrik China berpotensi menjadi pihak yang paling diuntungkan, sementara negara lain dituntut menyesuaikan diri dengan perubahan lanskap energi global.
Sebelumnya, pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu juga berspekulasi mengenai peluang kendaraan listrik di tengah krisis BBM. Ia menilai konflik Iran-AS bisa menjadi momentum bagi kendaraan listrik untuk menarik perhatian publik.
Menurut Yannes, jika harga minyak menembus 100 dolar AS per barel akibat penutupan Selat Hormuz, kondisi itu dapat menjadi “momentum emas” untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Ia menambahkan, kelangkaan BBM dan lonjakan harga BBM berpotensi membuat biaya operasional EV semakin kompetitif dibanding mobil bermesin pembakaran internal (ICE) konvensional.
Ia juga menyebut secara strategis rantai pasok baterai berbasis nikel domestik dan sel baterai impor melalui rute Selat Malaka tidak terdampak blokade Hormuz, sehingga dinilai dapat menjaga kepastian stok. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi membuat konsumen semakin tertarik beralih ke EV yang kian kompetitif.

