Memanasnya konflik geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, serta keterlibatan Amerika Serikat mulai memunculkan efek berantai terhadap perdagangan global, termasuk ekspor kopi Indonesia. Komoditas unggulan ini dinilai menghadapi tekanan baru dari potensi gangguan jalur logistik, fluktuasi harga energi, hingga meningkatnya ketidakpastian pasar internasional.
Indonesia, sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia, mengekspor lebih dari 400 ribu ton kopi setiap tahun dengan tujuan utama Amerika Serikat, Eropa, dan Timur Tengah. Ketegangan di kawasan Timur Tengah dipandang berisiko mengganggu stabilitas ekspor, terutama bila eskalasi memengaruhi rute-rute perdagangan penting.
Guru Besar Makroekonomi Internasional Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Rustam Effendi, menilai konflik Iran–Israel dapat memicu kenaikan biaya logistik global. Ia menyoroti jalur perdagangan komoditas dunia, termasuk energi, yang melewati kawasan rawan konflik seperti Selat Hormuz. Jika eskalasi terjadi, biaya pengiriman disebut berpotensi meningkat signifikan.
Menurut Rustam, dampak konflik tidak hanya bersifat jangka pendek. Jika ketegangan berlangsung lama, pelaku pasar dapat menyesuaikan rantai pasok global dan negara importir berpotensi mencari sumber alternatif yang dinilai lebih stabil secara geopolitik. Kondisi ini, kata dia, menjadi tantangan bagi daya saing sejumlah komoditas Indonesia, termasuk kopi yang selama ini menjadi primadona ekspor.
Rustam juga menilai diperlukan respons kebijakan strategis dari dalam negeri. Ia menekankan pentingnya hilirisasi, penguatan branding kopi Indonesia, serta perluasan akses pasar global. Ketergantungan pada pasar tertentu, menurutnya, perlu dikurangi agar komoditas tetap kompetitif di tengah ketidakpastian global.
Tekanan lain datang dari potensi lonjakan harga minyak dunia yang kerap terjadi saat konflik di Timur Tengah memanas. Kenaikan harga energi dinilai dapat memperbesar ongkos produksi dan distribusi, yang pada akhirnya memengaruhi harga ekspor kopi Indonesia. Risiko lain yang disebutkan adalah menyempitnya akses pasar ekspor akibat gangguan yang ditimbulkan konflik.
Data Organisasi Kopi Internasional (International Coffee Organization/ICO) menunjukkan harga kopi global sensitif terhadap gangguan geopolitik. Dalam beberapa konflik sebelumnya, harga kopi disebut dapat naik 10–20 persen dalam waktu singkat akibat spekulasi pasar dan gangguan distribusi. Namun, kenaikan harga global tidak otomatis menjadi keuntungan bagi petani.
Di Aceh—salah satu sentra produksi kopi arabika, termasuk Gayo—dampaknya dinilai lebih kompleks. Ketua Koperasi Petani Kopi Gayo, Muhammad Iqbal, menyebut petani sering kali tidak menikmati kenaikan harga internasional. Yang lebih terasa di tingkat petani, menurutnya, adalah kenaikan biaya pupuk, transportasi, dan kebutuhan produksi.
Aceh disebut menyumbang sekitar 30 persen produksi kopi arabika Indonesia, dengan sebagian besar diekspor ke Amerika Serikat dan Eropa. Ketergantungan pada pasar ekspor ini membuat petani di wilayah tersebut rentan terhadap gejolak global. Selain faktor biaya, konflik juga berpotensi menekan permintaan dari negara-negara terdampak, termasuk Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu pasar penting kopi Indonesia. Jika kondisi ekonomi kawasan melemah akibat perang, permintaan impor kopi dapat ikut turun.
Ekonom pertanian Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Dr. T. Saiful Bahri, menambahkan bahwa dampak konflik juga terkait ketidakpastian nilai tukar. Dalam situasi konflik global, investor cenderung mencari aset aman seperti dolar AS, yang dapat mendorong pelemahan rupiah. Menurutnya, pelemahan rupiah bisa menguntungkan eksportir, tetapi sekaligus meningkatkan biaya impor bahan produksi.
Di tingkat nasional, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor kopi Indonesia pada tahun terakhir mencapai lebih dari USD 1,2 miliar, namun angka tersebut fluktuatif dan bergantung pada kondisi global. Pemerintah, melalui Kementerian Perdagangan, juga mengakui adanya potensi gangguan ekspor akibat konflik geopolitik dan menyatakan tengah memantau perkembangan serta menyiapkan strategi diversifikasi pasar.
Saiful, yang juga Ketua Perhimpunan Agribisnis Indonesia (Perhapi) Aceh, menyebut diversifikasi pasar dapat diarahkan ke Asia Selatan, Afrika, dan negara-negara non-tradisional agar ketergantungan pada kawasan tertentu berkurang. Bagi petani di Aceh, strategi ini diharapkan memberi stabilitas jangka panjang, meski tantangan di lapangan tetap besar, terutama terkait akses pasar, pembiayaan, dan infrastruktur.
Tekanan terhadap sektor kopi juga disebut terjadi bersamaan dengan dampak perubahan iklim. Cuaca ekstrem di beberapa wilayah dilaporkan menurunkan produksi, sehingga petani menghadapi tekanan ganda. Dalam kondisi tersebut, para ahli menekankan pentingnya intervensi pemerintah untuk melindungi petani, antara lain melalui subsidi input produksi, stabilisasi harga di tingkat petani, serta penguatan koperasi.
Di Aceh, sejumlah koperasi mulai mengambil langkah adaptif, seperti meningkatkan kualitas produk, memperluas sertifikasi organik dan fair trade, serta menjalin kontrak langsung dengan pembeli internasional. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada rantai distribusi yang rentan terhadap gejolak global.
Meski demikian, ketidakpastian masih membayangi. Jika konflik Iran–Israel dan keterlibatan Amerika Serikat terus bereskalasi, dampaknya terhadap perdagangan global, termasuk kopi, diperkirakan akan semakin besar. Bagi Indonesia, menjaga stabilitas ekspor kopi bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup jutaan petani—termasuk di Aceh, ketika dampak konflik global dapat terasa hingga ke kebun-kebun di dataran tinggi Gayo.

