Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kekhawatiran dunia terhadap gangguan jalur pelayaran dan distribusi energi global. Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia, sehingga setiap pembatasan akses berpotensi memicu tekanan krisis energi.
Situasi memburuk sejak serangan AS-Israel pada 28 Februari, yang disebut memicu langkah Iran mengunci Selat Hormuz. Meski demikian, Iran menyatakan negara-negara yang tidak terkait dengan serangan tersebut tetap dapat melintas, dengan syarat berkoordinasi.
Peneliti maritim dari International Institute for Strategic Studies, Nick Childs, menilai Selat Hormuz sebagai salah satu titik rawan paling menantang di dunia. Ia menekankan tidak adanya rute alternatif bagi pelayaran yang biasanya melewati jalur tersebut.
Iran memiliki garis pantai hampir 1.000 mil yang dinilai memungkinkan peluncuran rudal antikapal dari berbagai titik. Ancaman terhadap pelayaran juga disebut kompleks karena melibatkan penggunaan drone, kapal cepat, hingga ranjau laut. Sejauh ini, Iran dilaporkan telah menyerang sedikitnya 19 kapal yang melintas tanpa izin di sekitar Teluk Persia dan Teluk Oman. Dampaknya, ribuan kapal tertahan dan distribusi energi global terganggu.
Merespons perkembangan itu, Uni Emirat Arab mendorong pembentukan pasukan maritim multinasional untuk mengamankan Selat Hormuz. Sejumlah negara Barat juga mulai menjajaki kerja sama serupa, meski belum semuanya sepakat mengirim kekuatan militer.
Di sisi lain, Malaysia memilih jalur komunikasi langsung dengan Iran. Perdana Menteri Anwar Ibrahim menyatakan Teheran telah memberikan izin awal bagi kapal-kapal Malaysia untuk melintasi selat tersebut. Iran juga disebut memuji sikap Malaysia yang mengecam serangan AS-Israel.
“Kami sedang dalam proses mengamankan pembebasan kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat agar mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang,” ujar Anwar, seperti dikutip Al Jazeera pada 26 Maret.
Sementara itu, Indonesia masih menunggu perkembangan. Dua kapal, Pertamina Pride dan Gamsunoro, dilaporkan belum dapat melintas. Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl, menyatakan pemerintah terus berkomunikasi dengan Iran.

