BERITA TERKINI
Ketegangan di Selat Hormuz Memanas, Aturan Baru Iran dan Respons AS Picu Kekhawatiran Krisis Energi

Ketegangan di Selat Hormuz Memanas, Aturan Baru Iran dan Respons AS Picu Kekhawatiran Krisis Energi

JAKARTA — Selat Hormuz kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Jalur pelayaran yang disebut mengalirkan sekitar 20 persen minyak mentah dunia itu digambarkan sebagai panggung utama perang atrisi kedua negara, dengan risiko berimbas pada stabilitas energi global.

Dalam tulisan yang dimuat Bedanews.com, Mayjen TNI (Purn) Fulad menyebut sejak April 2026 Iran resmi memberlakukan 12 aturan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Aturan tersebut antara lain mencakup larangan permanen bagi kapal Israel, pungutan transit hingga 2 juta dolar AS untuk setiap kapal tanker raksasa, serta pembatasan kuota kapal yang dapat melintas menjadi hanya 12 kapal per hari.

Menurut uraian tersebut, Amerika Serikat merespons kebijakan Iran dengan langkah yang disebut sebagai blokade laut. Dampaknya diklaim merugikan Iran hingga 4,8 miliar dolar AS dari pendapatan minyak. Selain itu, AS juga meluncurkan program bertajuk “Project Freedom” yang ditujukan untuk mengawal kapal dagang sekutu melintasi selat tersebut.

Situasi ini menambah kekhawatiran akan skenario krisis energi, kebuntuan diplomasi, serta meningkatnya risiko eskalasi militer terbuka di kawasan.