BERITA TERKINI
Ketegangan AS–Israel dan Iran Guncang Harga Minyak, Amerika Berpeluang Raup Manfaat namun Hadapi Risiko Inflasi

Ketegangan AS–Israel dan Iran Guncang Harga Minyak, Amerika Berpeluang Raup Manfaat namun Hadapi Risiko Inflasi

Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS)–Israel dan Iran ikut mengguncang pasar energi global. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia—memicu lonjakan harga minyak mentah dalam hitungan hari dan menambah kekhawatiran akan krisis energi yang lebih luas.

Laporan Al Jazeera pada 5 Maret 2026 mencatat gangguan terhadap infrastruktur dan jalur pengiriman energi di kawasan Teluk mendorong harga minyak global naik signifikan. Patokan Brent dilaporkan melonjak ke kisaran USD 80–85 per barel dalam beberapa hari setelah eskalasi, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik tajam. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar atas potensi terganggunya suplai dari Iran maupun negara-negara Teluk lainnya.

Ancaman terbesar berada di Selat Hormuz. Jika jalur ini terganggu atau bahkan ditutup sementara akibat konflik, dampaknya dinilai bisa menyerupai krisis minyak era 1970-an, ketika lonjakan harga energi mendorong inflasi global. Reuters melaporkan gangguan awal sudah membuat sejumlah kapal tanker tertahan, sementara biaya asuransi pengiriman meningkat tajam.

Di tengah gejolak tersebut, muncul pertanyaan yang mengemuka di kalangan analis: apakah AS justru akan diuntungkan? Berbeda dengan situasi beberapa dekade lalu, AS kini bukan lagi importir bersih energi. Dalam satu dekade terakhir, revolusi shale oil dan gas mengubah AS menjadi salah satu produsen minyak terbesar dunia, bersaing dengan Arab Saudi dan Rusia. Produksi minyak mentah AS dalam beberapa tahun terakhir stabil di atas 12 juta barel per hari, sementara ekspor LNG Amerika menjadikannya eksportir LNG terbesar di dunia, diikuti Qatar dan Australia.

Dalam konteks krisis pasokan dari Timur Tengah, kondisi ini membuka peluang ekspor tambahan bagi perusahaan energi AS seperti ExxonMobil dan Chevron. Al Jazeera menekankan, jika gangguan pasokan berlangsung berkepanjangan, konsumen global akan mencari alternatif dan AS berada pada posisi strategis untuk mengisi sebagian kekosongan. Namun, kemampuan itu disebut memiliki batas: banyak ekspor LNG dan minyak AS sudah terikat kontrak jangka panjang, sementara kapasitas terminal ekspor mendekati maksimum. Artinya, AS dapat meningkatkan suplai, tetapi tidak sepenuhnya menggantikan peran Timur Tengah dalam waktu singkat.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak global juga menekan konsumen domestik AS. Harga bensin dan diesel di AS mulai naik mengikuti harga minyak dunia. Reuters melaporkan harga diesel AS sempat menembus USD 4 per galon, level tertinggi dalam hampir dua tahun. Kenaikan harga bahan bakar berisiko mendorong inflasi dan menggerus daya beli, terutama jika konflik berlangsung lama.

Bagi pemerintahan Presiden Donald Trump, situasi ini menciptakan dilema. Sektor energi berpeluang meraup keuntungan, tetapi konsumen menghadapi tekanan biaya hidup yang lebih tinggi. Trump menyatakan AS akan memastikan aliran energi tetap berjalan dan membuka kemungkinan langkah-langkah pengamanan jalur tanker minyak di kawasan Teluk, sebuah sinyal bahwa Washington menilai dampak harga energi terhadap stabilitas ekonomi domestik sebagai isu sensitif.

Perubahan juga terlihat pada arus perdagangan energi global. Sejumlah negara yang sebelumnya bergantung pada pasokan Timur Tengah mulai meningkatkan impor minyak dan LNG dari AS. Di Asia, Jepang, Korea Selatan, dan India disebut telah meningkatkan pembelian LNG AS dalam beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari diversifikasi sumber energi, dan ketegangan terbaru di Teluk dinilai mempercepat tren tersebut.

Indonesia termasuk negara yang mulai memperbesar impor energi dari AS. Data Kementerian Perdagangan RI menunjukkan impor LPG dan minyak mentah dari AS meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, seiring AS menjadi eksportir energi utama. Pemerintah Indonesia juga mendorong diversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada satu kawasan di tengah ketidakpastian geopolitik global. Dalam rilis Kumparan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia telah mulai mengimpor minyak mentah dari AS secara bertahap.

Krisis ini menegaskan pergeseran geopolitik energi: AS tidak hanya menjadi aktor militer global, tetapi juga pemasok energi alternatif penting. Jika konflik terkait Iran berkepanjangan dan gangguan di Selat Hormuz terjadi lebih lama, negara-negara pengimpor energi diperkirakan terdorong memperkuat kontrak jangka panjang dengan produsen di luar Timur Tengah, termasuk AS dan Kanada.

Namun, risiko tetap membayangi. Jika harga minyak terlalu tinggi dan bertahan lama, ekonomi global dapat melambat dan permintaan energi berpotensi turun akibat resesi. Dalam skenario tersebut, keuntungan ekspor AS bisa tidak sebesar perkiraan. Analisis energi yang dikutip Al Jazeera menyimpulkan manfaat ekonomi bagi AS sangat bergantung pada durasi konflik dan stabilitas jalur distribusi global: bila ketegangan cepat mereda, lonjakan harga dapat bersifat sementara; tetapi jika konflik meluas dan Selat Hormuz terganggu lama, peta energi dunia bisa berubah lebih permanen dengan AS sebagai salah satu pihak yang memperoleh manfaat strategis.