JAKARTA — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memicu kenaikan harga energi global yang berdampak luas pada perekonomian dunia. Sejumlah negara, terutama yang bergantung pada impor energi, mulai menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri untuk merespons lonjakan biaya.
Dampak paling berat dirasakan negara-negara berkembang yang menghadapi tekanan secara bersamaan. Selain kenaikan harga energi, negara-negara ini juga dibayangi inflasi yang meningkat, pelemahan nilai tukar, serta beban anggaran negara yang kian tertekan.
Situasi memburuk seiring gangguan distribusi energi di jalur strategis seperti Selat Hormuz. Di Asia Selatan, negara-negara seperti Pakistan, Bangladesh, dan Sri Lanka disebut mengalami tekanan karena tingginya ketergantungan pada impor energi dari kawasan tersebut.
Untuk menjaga stabilitas, pemerintah di berbagai negara mulai menerapkan langkah penghematan energi. Kebijakan yang ditempuh antara lain pembatasan distribusi bahan bakar, penghentian sebagian aktivitas operasional, hingga penyesuaian harga BBM guna menekan beban subsidi.
Di Afrika dan Timur Tengah, pendekatan serupa juga dilakukan. Mesir, misalnya, menaikkan harga bahan bakar dan menerapkan penghematan penggunaan energi di ruang publik sebagai upaya menjaga kestabilan fiskal.
Kenaikan harga energi turut merembet ke sektor lain. Biaya transportasi dan distribusi meningkat, yang kemudian mendorong kenaikan harga pangan dan kebutuhan pokok di tingkat masyarakat.
Para analis menilai tekanan ini berpotensi berlanjut apabila konflik tidak segera mereda. Negara dengan ketergantungan impor energi tinggi dan cadangan devisa terbatas diperkirakan menghadapi tantangan lebih besar dalam menjaga stabilitas perekonomian domestik.
Data yang disertakan dalam laporan juga memuat daftar persentase untuk sejumlah negara sebagai berikut: Kamboja (67,81 persen), Vietnam (49,73 persen), Nigeria (35,02 persen), Laos (32,94 persen), Kanada (28,36 persen), Pakistan (24,49 persen), Maladewa (18,54 persen), dan Australia (18,23 persen).

