Ketegangan antara Amerika Serikat dan China kembali meningkat, kali ini terkait persaingan di bidang kecerdasan buatan (AI). Dalam beberapa pekan terakhir, kedua negara mengambil langkah yang menandai eskalasi baru dalam kompetisi teknologi, termasuk pengawasan lebih ketat terhadap investasi dan transfer teknologi.
Langkah terbaru datang dari China. Regulator industri setempat meminta Meta—induk perusahaan Facebook—membatalkan rencana akuisisi perusahaan AI Manus senilai 2 miliar dolar AS, atau sekitar Rp30 triliun. Permintaan itu muncul hampir empat bulan setelah kesepakatan diumumkan pada Desember 2025.
Dalam pernyataan resminya, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China (NDRC) menyatakan keputusan tersebut diambil sesuai hukum dan regulasi yang berlaku, serta meminta pihak-pihak terkait menghentikan transaksi.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat juga mengambil langkah tegas dengan menindak perusahaan teknologi asing, terutama dari China, yang dinilai mengeksploitasi model AI buatan AS. Praktik yang disorot dikenal sebagai model distillation, yakni penggunaan model AI untuk melatih sistem lain secara tidak langsung.
Merespons perkembangan tersebut, China dilaporkan akan membatasi perusahaan teknologi domestik, termasuk startup AI, dalam menerima investasi dari Amerika Serikat tanpa persetujuan pemerintah. Menurut laporan Bloomberg, sejumlah perusahaan seperti Moonshot AI dan StepFun disebut telah diminta menolak pendanaan dari investor AS kecuali memperoleh izin resmi. Kebijakan serupa disebut akan berlaku pula bagi perusahaan besar seperti ByteDance, pemilik TikTok.
Pembatasan itu dikaitkan dengan upaya mencegah investor asing menguasai sektor strategis yang berkaitan dengan keamanan nasional. Regulator China juga disebut khawatir teknologi lokal dapat bocor ke luar negeri, terutama ketika perusahaan domestik mulai berekspansi secara global. Dalam konteks ini, rencana akuisisi Manus oleh Meta menjadi salah satu pemicu kekhawatiran, dan sempat menuai kritik dari kalangan akademisi di China.
Manus sendiri disebut-sebut sebagai kandidat kuat “DeepSeek berikutnya” dari China. Perusahaan ini mengembangkan agen AI yang diklaim mampu menangani berbagai tugas kompleks, mulai dari membeli properti, membuat gim, hingga menganalisis saham dan merencanakan perjalanan.
Pada Desember 2025, Meta mengumumkan rencana akuisisi Manus untuk memperkuat pengembangan AI. Meski didirikan di China, Manus memindahkan kantor pusat dan tim inti ke Singapura pada 2025, lalu beroperasi melalui perusahaan Butterfly Effect Pte. Kepala AI Meta, Alexandr Wang, menyatakan tim Manus yang berjumlah sekitar 100 orang akan mendukung ambisi Meta membangun pusat AI di Singapura.
Setelah akuisisi diumumkan, Kementerian Perdagangan China melakukan investigasi terkait kepatuhan terhadap regulasi domestik. Pada Maret, juga dilaporkan bahwa pendiri Manus dicegah meninggalkan China, meski perusahaan telah diakuisisi. Sementara itu, laporan Financial Times menilai kasus ini mencerminkan kekhawatiran pemerintah China terhadap fenomena menjual potensi masa depan ke pihak asing, terutama di sektor strategis seperti AI.
Perpindahan kantor pusat Manus ke luar negeri juga dinilai berpotensi menjadi celah untuk menghindari regulasi domestik dan dikhawatirkan dapat diikuti oleh startup lain. Rangkaian langkah saling membatasi antara AS dan China ini menunjukkan persaingan AI tidak lagi semata soal inovasi, tetapi juga terkait geopolitik dan keamanan nasional. Dengan kebijakan yang makin ketat dari kedua negara, arah kolaborasi global di bidang teknologi diperkirakan akan semakin kompleks.