Jakarta — Pengembangan proyek karbon di Indonesia dinilai perlu memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat. Hal ini mengemuka seiring penilaian bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi ekonomi karbon terbesar di dunia.
CEO Agasco, Ben Atkinson, mengatakan Indonesia memiliki modal alam yang kuat untuk mengembangkan proyek karbon yang kredibel dan terukur. “Indonesia memiliki modal alam yang sangat kuat. Melalui kemitraan dengan PHI Alam Lestari, kami ingin mengembangkan proyek karbon yang kredibel, terukur, dan memberikan manfaat nyata bagi lingkungan serta masyarakat,” ujar Ben Atkinson dalam keterangan tertulis, Rabu, 11 Maret 2026.
Pernyataan itu disampaikan dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama antara PHI Alam Lestari dan Agasco Ltd yang berlangsung di Hotel Mulia Senayan, Jakarta. Penandatanganan tersebut menandai dimulainya kolaborasi strategis pengembangan proyek karbon berbasis alam (nature-based solutions) di Indonesia.
Kesepakatan ini juga disebut sebagai bagian dari rangkaian kunjungan kerja bersama Kementerian Kehutanan di Jakarta yang diterima langsung Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, dalam rangka memperkuat dukungan terhadap pengembangan ekonomi karbon nasional.
Melalui kerja sama itu, kedua perusahaan akan menjajaki peluang pengembangan proyek karbon, konservasi hutan, serta integrasi pengelolaan kawasan dengan sektor pariwisata alam berkelanjutan.
CEO PHI Alam Lestari, Donny Pur, menyebut kolaborasi tersebut sebagai langkah awal membangun model bisnis kawasan yang memadukan konservasi lingkungan, pariwisata alam, dan ekonomi karbon. “Indonesia memiliki kekayaan ekosistem yang luar biasa. Kolaborasi dengan Agasco membuka peluang agar pengelolaan kawasan tidak hanya berorientasi ekonomi, tetapi juga menghasilkan nilai karbon dan keberlanjutan yang diakui secara global,” katanya.
PHI Alam Lestari selama ini mengembangkan sejumlah kawasan berbasis ekosistem dan pariwisata alam di berbagai wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra. Donny menilai kerja sama ini berpotensi melahirkan model pengelolaan kawasan hijau yang memberi nilai ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Sementara itu, Managing Director PT Agasco Indonesia, Made Hariyantha, menilai kerja sama ini sebagai momentum bagi Indonesia untuk mengambil posisi strategis dalam peta ekonomi hijau global. Ia menyoroti pertumbuhan pasar karbon dunia yang dinilai sangat cepat. “Pasar karbon dunia sedang tumbuh sangat cepat. Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Dengan kolaborasi ini, kami ingin memastikan bahwa potensi hutan dan ekosistem Indonesia dapat dikelola secara profesional dan memberikan nilai ekonomi yang optimal bagi negara,” ujarnya.
Direktur Pelaksana PHI Alam Lestari, Ade Swargo, menekankan bahwa penandatanganan MoU merupakan tahap awal dari proses pengembangan proyek yang lebih luas. “Hari ini adalah kick-off meeting. Setelah ini kami akan masuk pada tahap pemetaan proyek, pengembangan metodologi karbon, hingga implementasi di beberapa kawasan prioritas yang telah kami siapkan di Jawa dan Sumatra,” jelasnya.
Agasco dan PHI Alam Lestari menyatakan komitmen untuk menghadirkan model kolaborasi yang menghubungkan konservasi alam, pembangunan ekonomi, dan pasar karbon global. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat pengembangan ekonomi karbon nasional serta mendukung upaya menjaga masa depan hutan Indonesia.

