Krisis di Selat Hormuz dinilai bukan semata isu geopolitik kawasan Timur Tengah, melainkan risiko ekonomi yang nyata bagi pelaku usaha. Pasalnya, sekitar seperlima minyak yang dikonsumsi dunia melewati selat sempit tersebut. Setiap gangguan di jalur ini kerap segera diterjemahkan pasar menjadi kenaikan harga energi global.
Dampaknya, dunia usaha—mulai dari manufaktur hingga logistik—berhadapan dengan potensi kenaikan biaya produksi, gangguan rantai pasok, serta meningkatnya tekanan terhadap harga domestik. Selat Hormuz sendiri disebut sebagai salah satu titik cekik (chokepoint) energi paling kritis dalam sistem ekonomi global.
Data menunjukkan sekitar 20–21 juta barel minyak per hari, atau hampir 20% konsumsi minyak dunia, melintasi Selat Hormuz. Dari volume tersebut, sekitar 85% mengalir ke pasar Asia, menjadikan kawasan ini tujuan utama ekspor energi dari Teluk Persia.
Empat ekonomi besar Asia—China, India, Jepang, dan Korea Selatan—menyerap sekitar 70–75% dari total minyak yang melewati Selat Hormuz. Dengan komposisi tersebut, gangguan serius di jalur ini berpotensi menjadi guncangan energi bagi perekonomian Asia.
Namun, tingkat kerentanan negara-negara Asia tidak sama. Jepang dan Korea Selatan dinilai paling rentan karena ketergantungan impor minyak dari Timur Tengah sangat tinggi. Sekitar 90–95% impor minyak Jepang berasal dari kawasan tersebut, dan sekitar 70% pasokannya—sekitar 1,9–2,1 juta barel per hari—melewati Selat Hormuz.
Korea Selatan memiliki pola yang hampir serupa. Sekitar 70% impor minyak negara itu berasal dari Timur Tengah, dengan sebagian besar pasokan juga melalui Selat Hormuz.
Sementara itu, China dan India menghadapi kerentanan dari sisi yang berbeda, yakni skala konsumsi energi industri yang besar. China menyerap sekitar 37–38% dari total aliran minyak yang melewati Selat Hormuz, sedangkan India sekitar 14–15%. Kombinasi ketergantungan impor yang tinggi dan struktur ekonomi yang intensif energi membuat keempat ekonomi Asia tersebut sensitif terhadap gangguan pasokan di salah satu jalur energi paling strategis dunia.
Selain ditentukan oleh ketergantungan impor, kerentanan juga dipengaruhi kapasitas mitigasi energi, terutama melalui cadangan minyak strategis (strategic petroleum reserves/SPR). Jepang, Korea Selatan, dan China disebut memiliki cadangan strategis yang relatif besar, di atas 200 hari konsumsi minyak, sementara India sekitar 70 hari.

