Nintendo dikabarkan sedang mempertimbangkan kenaikan harga konsol Nintendo Switch 2 mulai tahun 2026, seiring lonjakan harga komponen memori global—terutama Dynamic Random Access Memory (DRAM)—yang dipicu tingginya permintaan dari sektor kecerdasan buatan (AI).
Laporan Bloomberg pada Rabu, 18 Februari 2026, menyebutkan bahwa meski Switch 2 mencatat penjualan lebih dari 17 juta unit sejak peluncuran dan melampaui rekor generasi pertama, tekanan biaya produksi kini menjadi perhatian. Harga konsol yang saat ini berada di kisaran 449,99 dolar AS (sekitar Rp7 juta) disebut berpotensi tidak bertahan lama.
Sejumlah analis dan firma riset pasar menilai kenaikan harga tersebut dapat berdampak di berbagai pasar global dan memengaruhi strategi harga untuk beberapa varian konsol.
Lonjakan biaya ini dikaitkan dengan fenomena yang oleh analis dijuluki “RAMmageddon”. Dalam situasi ini, perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, Meta, dan Amazon disebut agresif membangun pusat data AI berskala besar. Infrastruktur tersebut mengandalkan akselerator Nvidia yang membutuhkan memori dalam jumlah besar agar dapat beroperasi optimal.
Para analis menggambarkan kebutuhan memori pusat data AI sangat tinggi, hingga satu rak server AI dapat mengonsumsi RAM setara dengan ribuan unit smartphone atau konsol game. Dampaknya, harga salah satu jenis DRAM dilaporkan melonjak hingga 75% hanya dalam satu bulan.
Di sisi pasokan, pemasok utama seperti Samsung dan SK Hynix disebut memprioritaskan produksi untuk chip AI dibandingkan sektor elektronik konsumen. Kondisi ini memicu kelangkaan komponen yang berimbas luas, termasuk ke industri gim.
Tekanan akibat kelangkaan memori juga dilaporkan dirasakan produsen lain. Sony disebut mempertimbangkan menunda peluncuran PlayStation 6 hingga 2028 atau 2029 untuk menghindari lonjakan biaya produksi. Microsoft dilaporkan telah menaikkan harga Xbox di beberapa wilayah, sementara harga PlayStation 5 juga disebut sudah mengalami penyesuaian pada tahun lalu.
Dampak “RAMmageddon” tidak hanya menyentuh industri konsol. Produsen kendaraan listrik Tesla dan perusahaan gadget Apple juga dilaporkan telah memperingatkan investor mengenai potensi tekanan pada margin keuntungan akibat krisis memori global.

