Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai sektor industri agro masih menjadi salah satu pilar penting perekonomian nasional, termasuk dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen. Pemerintah menyoroti kontribusi sektor ini terhadap perdagangan, investasi, serta penyerapan tenaga kerja.
Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin Merrijantij Punguan Pintaria dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema “Strategi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen” di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Menurut Merrijantij, kinerja industri agro pada 2025 masih relatif kuat meski menghadapi tekanan ekonomi global. Sektor ini mencatat pertumbuhan 4,95 persen, sedikit melambat dibandingkan 2024 yang mencapai 5,20 persen.
“Kondisi ekonomi global turut memengaruhi permintaan dan rantai pasok industri sehingga pertumbuhannya sedikit melambat,” kata Merrijantij.
Meski pertumbuhan melambat, kontribusi industri agro terhadap perekonomian nasional dinilai tetap signifikan. Sepanjang 2025, neraca perdagangan industri agro mencatat surplus 57,54 miliar dolar AS. Angka ini disebut melampaui surplus industri pengolahan nonmigas secara keseluruhan yang mencapai 37,86 miliar dolar AS.
Ia menambahkan, industri agro menyumbang 52,09 persen terhadap total industri pengolahan nonmigas.
Dari sisi investasi, industri agro juga dinilai masih menarik bagi investor. Pada 2025, nilai investasi sektor ini tercatat Rp191,73 triliun atau sekitar 35,84 persen dari total investasi sektor industri pengolahan. Nilai tersebut terdiri dari penanaman modal asing (PMA) Rp91 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sekitar Rp100 triliun.
Selain perdagangan dan investasi, industri agro juga berperan dalam penyerapan tenaga kerja. Merrijantij menyebut sektor ini diperkirakan menyerap sekitar 10 juta tenaga kerja secara langsung di berbagai subsektor.
Namun, pemerintah menilai ruang pengembangan industri agro masih besar. Tingkat utilisasi atau kapasitas produksi industri agro saat ini disebut baru sekitar 57,28 persen.
“Artinya masih terdapat ruang yang cukup besar untuk meningkatkan produksi guna memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor,” ujar Merrijantij.
Indikator optimisme industri, lanjutnya, juga terlihat dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) atau PMI manufaktur yang dirilis Kemenperin. Pada Februari 2026, indeks tersebut masih berada di atas 50 yang menandakan sektor industri berada dalam fase ekspansi.
Dalam paparannya, Merrijantij menilai Indonesia memiliki keunggulan struktural untuk memperkuat industri agro, antara lain ketersediaan sumber daya alam yang melimpah dan pasar domestik yang besar. Sejumlah komoditas, seperti kelapa sawit, kelapa, rumput laut, kopi, rempah-rempah, hingga produk perikanan, disebut memiliki potensi untuk diolah menjadi produk bernilai tambah di dalam negeri.
“Dengan populasi lebih dari 260 juta jiwa, pasar domestik Indonesia sangat besar dan menjadi peluang penting bagi pengembangan industri berbasis bahan baku lokal,” katanya.
Pemerintah juga mendorong kebijakan strategis untuk memperkuat sektor ini, termasuk program biodiesel B50 yang ditujukan untuk meningkatkan pemanfaatan komoditas domestik sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar ekspor. Selain itu, meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kualitas produk dan sertifikasi halal dinilai membuka peluang bagi produk agro Indonesia memperluas pasar.
Meski demikian, Merrijantij mengakui masih ada tantangan yang dihadapi industri agro nasional. Salah satunya ketergantungan impor bahan baku tertentu seperti kakao, kopi, dan kedelai. Menurutnya, kondisi ini terjadi karena pertumbuhan sektor industri tidak selalu diimbangi peningkatan produksi di sektor pertanian.
Tantangan lain meliputi keterbatasan teknologi dan inovasi, serta tingginya biaya produksi seperti energi, air, logistik, dan bahan baku impor yang membuat harga produk domestik kurang kompetitif. “Akibatnya daya saing produk dalam negeri di pasar global masih menghadapi tekanan,” ujarnya.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian, terutama untuk menghadapi transformasi teknologi di sektor industri. Karena itu, Merrijantij menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat untuk memperkuat industri agro ke depan.
“Dengan penguatan produksi bahan baku domestik, inovasi teknologi, efisiensi biaya produksi, dan peningkatan kualitas SDM, industri agro diharapkan tetap menjadi penggerak utama perekonomian nasional sekaligus mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen,” pungkasnya.

