BERITA TERKINI
Kemenpar Perkuat Pasar Asia-Pasifik untuk Jaga Stabilitas Pariwisata Bali di Tengah Dampak Konflik Timur Tengah

Kemenpar Perkuat Pasar Asia-Pasifik untuk Jaga Stabilitas Pariwisata Bali di Tengah Dampak Konflik Timur Tengah

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyiapkan langkah untuk menjaga stabilitas pariwisata Bali di tengah dampak konflik di kawasan Timur Tengah yang turut mempengaruhi penerbangan internasional. Salah satu strategi yang ditempuh adalah memperkuat pasar wisatawan dari kawasan Asia dan Pasifik.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan manajemen Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai terkait kondisi penerbangan menuju Timur Tengah. Berdasarkan laporan General Manager bandara, penurunan lalu lintas penumpang di Bandara Bali disebut relatif kecil.

“Laporan dari GM Bandara Bali bahwa traffic yang terjadi di Bandara Bali ini penurunannya hanya sekitar 0,5 persen. Jadi kemungkinannya adalah orang yang akan terbang ke Bali ataupun keluar Bali itu reroute,” ujar Ni Luh Puspa, Kamis malam (5/3/2026).

Puspa menjelaskan, konektivitas penerbangan menuju Indonesia saat ini masih didominasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Ia menyebut kontribusi konektivitas terbesar berasal dari Malaysia dan Singapura, sementara porsi dari Timur Tengah lebih kecil.

“Saat ini kalau kita lihat hub konektivitas kita menuju ke Indonesia, itu 28 persen dari Malaysia, kemudian 18 persen dari Singapura, 11 persennya baru dari Timur Tengah. Sisanya itu ada dari Hongkong dan kemudian dari beberapa airport lainnya,” katanya.

Dengan komposisi tersebut, Kemenpar berupaya memperkuat pasar Asia dan Pasifik agar dampak situasi di Timur Tengah tidak terlalu besar terhadap pariwisata Indonesia, termasuk Bali.

“Kita memperkuat pasar Asia dan juga Pasifik kita saat ini, sehingga kita harapkan nantinya dengan memperkuat pasar Asia dan Pasifik, dampak dari apa yang terjadi di Timur Tengah ini tidak terlalu besar dampaknya kepada pariwisata Indonesia,” lanjutnya.

Ia menambahkan, pasar utama wisatawan mancanegara ke Indonesia pada 2025 hingga saat ini masih didominasi oleh Malaysia, Singapura, India, China, dan Australia. Pemerintah, kata dia, akan terus memantau perkembangan situasi dengan berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia serta UN Tourism.