BERITA TERKINI
Kemenlu Perkuat Diplomasi Pariwisata lewat BBTF 2026 di Bali

Kemenlu Perkuat Diplomasi Pariwisata lewat BBTF 2026 di Bali

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menegaskan sektor pariwisata memiliki peran strategis sebagai instrumen diplomasi Indonesia di tengah dinamika global yang kian kompleks. Penegasan itu disampaikan dalam konferensi pers Road to Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 di Nusa Dua, Bali, pada awal pekan ini.

Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu, Heru Hartanto Subolo, menyatakan pariwisata kini tidak lagi semata sektor ekonomi, melainkan telah menjadi bagian dari diplomasi modern. Menurutnya, pariwisata dapat membangun kepercayaan global, memperkuat citra bangsa, serta membuka ruang interaksi antarnegara yang lebih inklusif.

Heru menilai penyelenggaraan BBTF 2026 menjadi momentum penting untuk mempertegas positioning Indonesia, khususnya Bali, di mata dunia. Meski Bali telah lama dikenal sebagai destinasi unggulan, forum tersebut dinilai tetap relevan karena menjadi wadah yang merangkul potensi pariwisata Indonesia dalam satu panggung promosi terpadu. Dalam konteks itu, Kemenlu disebut berperan sebagai komunikator utama untuk membangun persepsi positif Indonesia di kancah global.

Kolaborasi lintas sektor juga diperkuat melalui sinergi dengan kementerian/lembaga, asosiasi industri, hingga media. Promosi pariwisata didorong lebih terintegrasi, tidak hanya menampilkan keindahan destinasi, tetapi juga kekuatan budaya, stabilitas, serta kesiapan infrastruktur nasional.

Kemenlu menyebut jaringan 132 perwakilan RI di luar negeri telah digerakkan untuk mengintensifkan promosi BBTF 2026. Sejumlah negara juga dikabarkan telah mengonfirmasi kehadiran dalam ajang yang akan digelar pada pertengahan tahun tersebut.

Di tengah tantangan global, termasuk isu geopolitik dan gangguan konektivitas, pemerintah menilai pentingnya menjaga arus informasi positif. Heru mengajak para pemangku kepentingan, termasuk pelaku industri dan masyarakat, untuk aktif menghadirkan narasi optimistis tentang Indonesia di ruang publik dan media sosial.

Selain promosi, aspek konektivitas dan kemudahan akses turut menjadi perhatian. Kemenlu menyatakan akan memperkuat kerja sama internasional guna meminimalkan hambatan perjalanan wisatawan ke Indonesia, termasuk melalui koordinasi dengan mitra transportasi global.

Pendekatan diplomasi juga diperluas melalui gastronomi. Kuliner Indonesia dinilai dapat menjadi jembatan interaksi lintas budaya, membantu mencairkan perbedaan, serta membangun storytelling yang memperkaya pengalaman wisatawan.

Heru menekankan dampak pariwisata tidak berhenti pada promosi destinasi, tetapi juga menyentuh penguatan rantai ekonomi lokal dan kesejahteraan masyarakat. Dengan pengalaman lebih dari satu dekade penyelenggaraan, BBTF diharapkan bukan hanya menjadi ajang transaksi bisnis, melainkan platform strategis untuk mendorong kunjungan berulang wisatawan mancanegara serta memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di pasar global.