Kementerian Perhubungan mencatat peningkatan signifikan penggunaan jet pribadi untuk mudik Lebaran 2026 di berbagai wilayah Indonesia. Wakil Menteri Perhubungan Suntana mengatakan pemesanan private jet ikut naik seiring meningkatnya jumlah penerbangan pada periode mudik tahun ini.
Menurut Suntana, kondisi operasional penerbangan domestik tetap stabil dan aman di tengah dinamika global maupun regional. Ia menegaskan ekosistem transportasi udara nasional berada dalam kondisi baik, dengan kenaikan jumlah penumpang dan frekuensi penerbangan dinilai menjadi indikator positif bagi pemulihan sektor penerbangan.
"Nggak ada pengaruh, everything is okay lah gitu ya," kata Suntana di Kantor Staf Presiden, kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Ia menyebut segmen private jet menjadi salah satu yang paling menonjol pertumbuhannya pada masa mudik kali ini. Peningkatan tersebut dinilai mencerminkan pergeseran preferensi sebagian masyarakat yang memilih moda transportasi lebih eksklusif dan fleksibel untuk pulang ke kampung halaman saat Lebaran.
"Ya karena jumlah penerbangan di data sekarang ini mengalami kenaikan termasuk private jet, pemesanan private jet juga bertambah untuk tahun Lebaran ini," ujar Suntana.
Di sisi lain, pemerintah juga memantau situasi penerbangan internasional menyusul kabar krisis bahan bakar penerbangan di beberapa negara tetangga. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kebijakan Pemerintah Vietnam yang memangkas jadwal penerbangan karena keterbatasan suplai bahan bakar.
Suntana menyatakan Indonesia menyiapkan langkah antisipatif agar kondisi serupa tidak terjadi di bandara-bandara dalam negeri. Evaluasi rutin dilakukan untuk memastikan ketersediaan armada maskapai nasional dapat menampung peningkatan animo masyarakat, sekaligus menjaga layanan penerbangan tetap berjalan normal.
"Kita sedang mengevaluasi berbagai langkah untuk menjamin, menjamin bahwa penerbangan kita kembali normal seperti biasa. Sebagai data saja sebenarnya penerbangan kita sejak sebelum Covid ini sudah kembali normal. Nah, tapi ada beberapa langkah dan peningkatan animo. Nah kita lihat ketersediaan maskapai kita. Kalau maskapai kita memang belum cukup mungkin berbagai pola untuk memenuhi animo masyarakat akan dilaksanakan," tutur Suntana.
Dalam konteks yang lebih luas, konflik di Timur Tengah juga disebut berdampak pada preferensi perjalanan wisata masyarakat Indonesia. Situasi tersebut mendorong sebagian wisatawan mengalihkan tujuan liburan dari Eropa ke kawasan Asia Timur lainnya.

