Teheran — Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan telah memicu perubahan besar dalam dinamika geopolitik kawasan. Khamenei disebut tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.
Operasi militer berskala besar itu disebut memiliki sandi “Operation Epic Fury” oleh Amerika Serikat dan “Roaring Lion” oleh Israel. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 40 pejabat tinggi Iran, termasuk Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh serta komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mohammad Pakpour.
Seiring kabar kematian Khamenei, Iran dilaporkan memasuki fase kekosongan kekuasaan. Mengacu pada Pasal 111 Konstitusi Iran, sebuah Dewan Kepemimpinan Sementara disebut telah diaktifkan untuk mencegah runtuhnya administrasi negara. Dewan itu terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam Hossein Mohseni Ejei, dan perwakilan Dewan Garda.
Di tengah situasi tersebut, nama Ali Larijani dan Mohammad Bagher Ghalibaf disebut-sebut sebagai calon pengelola negara. Sementara itu, keberadaan putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, dilaporkan belum diketahui setelah disebut ikut menjadi target dalam kampanye serangan yang diarahkan pada pucuk kepemimpinan.
Eskalasi militer disebut berlanjut setelah hari pertama. Pada 1 Maret 2026, Israel dilaporkan meluncurkan gelombang serangan baru yang menargetkan pusat kota Teheran. Di saat yang sama, Presiden Donald Trump memperingatkan melalui media sosial bahwa Amerika Serikat akan membalas setiap tindakan Iran dengan kekuatan yang disebut belum pernah terlihat sebelumnya.
Iran kemudian dilaporkan merespons dengan meluncurkan “Operation True Promise 4”. Operasi itu disebut melibatkan sedikitnya 170 rudal balistik dan ratusan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Serangan rudal Iran juga dilaporkan merusak infrastruktur sipil di sekitar Palm Jumeirah dan Burj Al Arab di Dubai, serta menyebabkan operasional bandara internasional di wilayah Teluk lumpuh.
Dampak global paling besar disebut muncul setelah Iran dilaporkan menutup total Selat Hormuz melalui pengerahan angkatan laut IRGC. Dalam siaran radio VHF, pihak Iran memperingatkan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintas. Sejumlah perusahaan pelayaran besar seperti Maersk, CMA CGM, dan Hapag-Lloyd dilaporkan merespons dengan mengalihkan rute kapal mengitari Tanjung Harapan.
Para analis ekonomi memperingatkan bahwa jika blokade berlanjut, harga minyak mentah berpotensi melonjak melampaui 120 hingga 200 dolar AS per barel. Kenaikan tersebut diperkirakan dapat memicu inflasi global dan resesi berat.
Di dalam negeri Iran, situasi dilaporkan memperlihatkan reaksi publik yang berlawanan. Sejumlah laporan intelijen dan rekaman video disebut menunjukkan adanya perayaan di jalanan oleh warga yang berharap rezim jatuh, namun pada saat yang sama aparat keamanan dilaporkan melakukan penindakan keras.
Pemerintah Iran juga disebut memberlakukan pemadaman internet total, dengan tingkat konektivitas dilaporkan hanya 4%, untuk mencegah koordinasi aksi protes lebih lanjut.
Di tengah kekacauan itu, tokoh oposisi di pengasingan, Reza Pahlavi, menyerukan agar rakyat Iran bersiap mengambil alih pemerintahan dan meminta militer berpihak kepada rakyat.
Di tingkat internasional, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengecam penggunaan kekuatan militer yang dinilai merusak perdamaian internasional. Rusia dan China juga dilaporkan mengkritik keras serangan Amerika Serikat dan Israel sebagai tindakan agresif yang tidak beralasan.
Di sisi lain, Ukraina dan Albania disebut menyatakan dukungan terhadap tindakan tegas Amerika Serikat dalam melemahkan pihak yang mereka sebut sebagai “kriminal global”.

