JAKARTA – Keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BOP) dinilai perlu dipahami sebagai artikulasi strategis dari semangat Gerakan Non-Blok (GNB) yang berakar pada nilai-nilai Dasa Sila Bandung, hasil Konferensi Asia-Afrika 1955.
Di tengah meningkatnya rivalitas global dan fragmentasi geopolitik, BOP disebut tidak lagi sekadar simbol. Forum ini dipandang sebagai instrumen untuk menegaskan posisi Indonesia yang tidak memihak kekuatan besar, namun tetap aktif berperan menjaga perdamaian dunia.
Semangat tersebut disebut memiliki kesinambungan historis. Sejak era Presiden Soekarno, Indonesia menempatkan diri sebagai motor diplomasi global melalui inisiasi GNB, peran aktif di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta konsistensi mendorong dekolonisasi dan keadilan internasional. Warisan ini dinilai kembali relevan dalam situasi global yang semakin multipolar.
Dalam praktiknya, peran internasional Indonesia disebut terlihat melalui keterlibatan dalam pengiriman pasukan penjaga perdamaian di bawah misi PBB, partisipasi dalam berbagai forum multilateral, serta upaya menjadi jembatan dialog antarnegara yang berkonflik.
Sikap politik luar negeri itu juga disebut tercermin dalam komitmen Indonesia mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina, yang dipandang sebagai bagian dari amanat konstitusi untuk menolak segala bentuk penjajahan.
Presiden Prabowo Subianto dinilai memiliki peluang untuk memperkuat peran tersebut melalui pendekatan diplomasi yang lebih progresif dan adaptif. Dalam kerangka BOP, Indonesia didorong tidak hanya menjadi penggagas, tetapi juga penggerak dalam membangun mekanisme dialog global yang inklusif dan berkelanjutan, termasuk mendorong penyelesaian konflik yang berkeadilan bagi rakyat Palestina.
Tokoh nasional Abdullah Rasyid menilai langkah Indonesia dalam BOP merupakan bentuk konsistensi sekaligus penguatan posisi di panggung dunia. “BOP adalah penegasan jati diri Indonesia sebagai bangsa yang mempelopori gerakan non-blok yang tidak tunduk pada tekanan kekuatan besar, tetapi aktif memperjuangkan perdamaian. Termasuk konsistensi kita dalam membela kemerdekaan Palestina sebagai amanat konstitusi dan nilai kemanusiaan universal,” ujarnya.
Di tengah bayang-bayang rivalitas kekuatan besar yang dulu tercermin dalam blok seperti NATO dan Pakta Warsawa dan kini hadir dalam konfigurasi baru, kehadiran Indonesia sebagai kekuatan non-blok yang aktif dinilai semakin relevan. Keikutsertaan Indonesia dalam BOP pun disebut menegaskan bahwa politik luar negeri bebas-aktif bukan sekadar prinsip normatif, melainkan telah teruji dalam praktik diplomasi di tingkat global.
Indonesia menegaskan tidak memihak kekuatan mana pun, namun berpihak pada perdamaian, kemerdekaan bangsa-bangsa, serta keadilan dan kemanusiaan universal.

