Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tunis diundang sebagai tamu kehormatan dalam Pameran Buku Internasional Tunisia ke-40 yang digelar Sabtu (2/5). Dalam ajang tersebut, KBRI turut mengadakan rangkaian diskusi terbuka yang mengangkat nilai-nilai kebangsaan Indonesia, mulai dari Pancasila, pemikiran Presiden Pertama RI Sukarno, hingga Jakarta.
Sejumlah tokoh hadir sebagai narasumber, antara lain Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia Zuhairi Misrawi, wartawan senior Harian al-Maghrib Ziyad Krisyan, serta wartawan Harian al-Syuruq Fadhil Thayyasyi. Indonesia juga tampil sebagai Tamu Kehormatan dalam pameran itu.
Dalam diskusi bertajuk “Pancasila Falsafah Indonesia”, Zuhairi menegaskan Pancasila sebagai fondasi utama persatuan Indonesia. Ia menyampaikan bahwa Pancasila telah terbukti mempersatukan keragaman bangsa dari sisi agama, bahasa, dan suku. Menurutnya, inti Pancasila sebagaimana disampaikan Sukarno adalah gotong royong, yang diyakini menjadi modal Indonesia untuk berperan dalam membangun peradaban dunia.
Zuhairi juga menyebut Pancasila sebagai landasan penting dalam diplomasi Indonesia. Ia menilai nilai persahabatan dan kerja sama yang terkandung dalam Pancasila dapat menjadi fondasi dalam membangun “peradaban diplomasi”, termasuk dalam konteks hubungan Indonesia-Tunisia.
Sementara itu, Ziyad Krisyan dan Fadhil Thayyasyi—keduanya jurnalis Tunisia yang pernah berkunjung ke Indonesia—menyampaikan pandangan bahwa nilai Pancasila mereka lihat diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Rangkaian diskusi juga membahas buku “Gerbang Pintu Timur: Pengalaman Mahasiswi Tunisia di Indonesia” karya Nahed Zidenhum. Dalam kesempatan itu, Zuhairi menekankan peluang bagi mahasiswa Tunisia untuk menempuh pendidikan di Indonesia. Ia menyebut adanya program khusus dari Kementerian Pendidikan Tinggi bagi mahasiswa Tunisia, serta dukungan beasiswa dari perguruan tinggi.
Menurut Zuhairi, diplomasi berbasis pendidikan terbukti efektif mempererat hubungan bilateral Indonesia-Tunisia. Ia menilai pengalaman belajar dan berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat dapat memberi kesan positif sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas, termasuk diplomasi ekonomi.
Nahed Sidnhum dalam diskusi itu menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Indonesia melalui KBRI Tunis atas kesempatan studi yang ia peroleh. Ia menyebut bukunya sebagai bentuk terima kasih kepada Indonesia.
Diskusi lain mengangkat buku “Jakarta: Jantung Kota Indonesia Yang Selalu Menyala” karya Muhammad Mathri Shumayda yang memotret wajah ibu kota Indonesia sebagai simbol sejarah dan modernitas. Zuhairi menjelaskan Jakarta sebagai kota yang memadukan historisitas dan modernitas, sekaligus memiliki posisi penting dalam perjalanan bangsa karena menjadi kota bersejarah bagi proklamasi Indonesia. Ia juga menyinggung Jakarta sebagai wajah modernitas yang terus berkembang.
Zuhairi menambahkan bahwa Jakarta berkembang menjadi kota yang semakin humanis, antara lain melalui ketersediaan ruang publik, perpustakaan, transportasi publik, dan infrastruktur yang dinilai berpihak pada kepentingan warga. Sementara penulis menilai Jakarta sebagai kota yang megah dengan masyarakat yang ramah.
Selain itu, salah satu buku yang dibahas ialah “Api Islam Bung Karno” yang mengangkat pemikiran Sukarno tentang Islam yang berkemajuan. Zuhairi menyebut gagasan tersebut masih relevan dan dinilai memperkokoh nilai kebangsaan, kemanusiaan, serta keadilan sosial. Ia juga menilai pemikiran itu mendapat sambutan luas di dunia Islam karena dipandang mampu menjadi perekat dan mendorong perdamaian.
Cendekiawan Tunisia Muhammad Haddad turut memberikan pandangan dengan menyebut Sukarno sebagai pemikir besar. Ia menyoroti Pidato Pancasila 1 Juni 1945 sebagai pemikiran penting yang menempatkan kebangsaan sebagai pilar utama.
Rangkaian kegiatan di pameran tersebut menunjukkan keterlibatan Indonesia dalam diplomasi budaya dan intelektual di Tunisia, melalui penguatan nilai Pancasila serta promosi karya literasi yang merepresentasikan pengalaman, kota, dan pemikiran Indonesia di forum internasional.