Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Sofia, Bulgaria, mengedepankan gastrodiplomasi sebagai bagian dari strategi diplomasi publik Indonesia di kawasan Balkan. Pendekatan ini menempatkan kuliner sebagai sarana membangun pemahaman lintas budaya sekaligus memperkuat citra Indonesia melalui diplomasi kekuatan lunak (soft power).
Melalui jalur kuliner, Indonesia tidak hanya memperkenalkan identitas budaya, tetapi juga membuka peluang penguatan kerja sama ekonomi, perdagangan, dan hubungan internasional. Data pendukungnya terlihat dari survei tahun 2024 yang diikuti 99 Perwakilan RI, yang mencatat terdapat 1.221 restoran Indonesia di 67 negara dan 338 kota di dunia. Survei itu juga mengumpulkan informasi mengenai ketersediaan produk rempah dan bumbu Indonesia di luar negeri, yang dinilai penting untuk pengembangan ekosistem kuliner nasional di tingkat global.
Pemerintah juga menyediakan dasbor gastrodiplomasi yang memuat persebaran restoran Indonesia di luar negeri, yang dapat diakses melalui https://gastrodiplomasi.kemlu.go.id/. Platform tersebut menjadi rujukan bagi perwakilan Indonesia dan pelaku usaha kuliner untuk merancang strategi promosi sekaligus memperkuat diplomasi ekonomi.
Potensi ekonomi dari kuliner Indonesia turut tercermin pada kinerja ekspor. Sepanjang 2024, Indonesia mengekspor 30 jenis rempah dan sembilan produk kuliner ke berbagai negara. Data ini menegaskan kuliner tidak hanya menjadi ekspresi budaya, tetapi juga aset ekonomi yang strategis.
Menteri Luar Negeri Sugiono menekankan bahwa promosi gastronomi Indonesia membutuhkan kerja bersama berbagai pihak. “Mempromosikan masakan Indonesia sebagai merek nasional bukanlah hal yang mudah dan tidak dapat dilakukan sendiri. Hal ini membutuhkan koordinasi, kolaborasi, dan sinergi di antara semua pemangku kepentingan,” ujar Sugiono.
Di Bulgaria, KBRI Sofia melakukan langkah konkret dengan menggalang kolaborasi bersama pelaku kuliner Indonesia setempat. Salah satu inisiatifnya adalah mengumpulkan para chef Indonesia yang bekerja di negara tersebut untuk membangun jejaring dan merumuskan strategi promosi kuliner Nusantara. Pertemuan digelar di Yati Cooking, restoran Indonesia yang berlokasi di Sofia.
Duta Besar Indonesia untuk Bulgaria Listiana Operananta dalam pertemuan tersebut menegaskan pentingnya memperluas pengenalan kuliner Indonesia kepada masyarakat Bulgaria dan kawasan Balkan secara lebih luas. Menurutnya, diplomasi kuliner tidak hanya memperkenalkan makanan sebagai produk konsumsi, tetapi juga menyampaikan cerita tentang identitas bangsa, kekayaan rempah, dan keragaman budaya Indonesia.
“Strategi promosi cita rasa Nusantara di Bulgaria, memerlukan kolaborasi antara perwakilan diplomatik, pelaku usaha kuliner, dan komunitas lokal,” kata Listiana Operananta.
Meski minat masyarakat Bulgaria terhadap masakan Indonesia disebut cukup tinggi, jumlah restoran Indonesia di negara tersebut masih terbatas. Hingga kini, Yati Cooking menjadi satu-satunya restoran Indonesia yang tercatat beroperasi di Bulgaria dan telah terdaftar dalam dasbor gastrodiplomasi Kementerian Luar Negeri.
KBRI Sofia menyatakan terus mendorong pertumbuhan restoran Indonesia lainnya, tidak hanya di Bulgaria, tetapi juga di wilayah rangkapan seperti Albania dan Makedonia Utara. Upaya tersebut dilakukan melalui fasilitasi jejaring pelaku usaha, promosi peluang investasi kuliner, serta penyediaan informasi praktis terkait tata cara membuka usaha kuliner di luar negeri.
Melalui gastrodiplomasi, Indonesia menempatkan cita rasa sebagai jembatan yang dapat membangun koneksi emosional antarbangsa. Dari pengalaman kuliner, dialog budaya diharapkan tumbuh dan pemahaman bersama dapat terbangun, seiring upaya memperluas jejak kuliner Indonesia di panggung global.

