BERITA TERKINI
Kapal Tanker China yang Disanksi AS Dilaporkan Lolos Melintasi Selat Hormuz

Kapal Tanker China yang Disanksi AS Dilaporkan Lolos Melintasi Selat Hormuz

Sebuah kapal tanker asal China yang berada dalam daftar sanksi Amerika Serikat (AS) dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz pada Selasa (14/4/2026), di tengah penerapan blokade ketat oleh militer AS di jalur perdagangan strategis tersebut.

Data pelayaran yang dikutip Reuters menunjukkan kapal bernama Rich Starry menjadi kapal pertama yang tercatat melintasi selat dan keluar dari Teluk sejak blokade AS dimulai. Informasi itu dihimpun dari data pelacakan kapal yang dipantau secara real-time oleh LSEG, MarineTraffic, dan Kpler.

Rich Starry beserta pemiliknya, Shanghai Xuanrun Shipping Co Ltd, sebelumnya dijatuhi sanksi oleh pemerintah AS karena dituduh melakukan transaksi perdagangan dengan Iran. Hingga berita ini diturunkan, perusahaan tersebut belum dapat dihubungi untuk memberikan komentar.

Berdasarkan data manifest pelayaran, Rich Starry merupakan kapal tanker berukuran menengah yang mengangkut sekitar 250.000 barel metanol. Kargo tersebut disebut dimuat di pelabuhan persinggahan terakhirnya, yakni Pelabuhan Hamriyah di Uni Emirat Arab.

Selain muatan komoditas kimia, kapal itu juga dilaporkan membawa awak yang seluruhnya berkewarganegaraan China. Kondisi ini menambah dimensi ketegangan diplomatik karena kapal tersebut disebut mengabaikan larangan melintas yang ditetapkan otoritas keamanan AS di wilayah perairan itu.

Data LSEG juga menunjukkan kapal tanker lain yang masuk daftar sanksi AS, yakni Murlikishan, terpantau ikut menuju Selat Hormuz pada hari yang sama. Kapal jenis handysize tersebut dilaporkan dalam kondisi kosong dan dijadwalkan memuat bahan bakar minyak (BBM) di Irak pada 16 April, berdasarkan data Kpler.

Murlikishan, yang sebelumnya dikenal dengan nama MKA, disebut memiliki rekam jejak panjang dalam pengiriman energi di wilayah konflik. Kapal itu tercatat pernah mengangkut minyak asal Rusia dan Iran, sehingga menjadi salah satu target utama pengawasan dalam blokade AS di kawasan Timur Tengah.

Perkembangan ini terjadi di tengah eskalasi militer yang meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran pada 28 Februari 2026, yang disebut memicu penutupan Selat Hormuz oleh Teheran. Situasi tersebut sempat memicu aksi saling blokir di jalur penghubung Teluk Persia ke Samudera Hindia.

Meski sempat ada kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan pada pekan lalu untuk memfasilitasi negosiasi damai di Islamabad, Pakistan, pembicaraan itu dilaporkan berakhir buntu tanpa kemajuan berarti. Kondisi tersebut kemudian memicu Washington menerapkan blokade ketat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.