BERITA TERKINI
Kadin Ingatkan Dampak Jika Dolar Tembus Rp22.000: Biaya Impor dan Utang Valas Naik, Ekspor Berpeluang Menguat

Kadin Ingatkan Dampak Jika Dolar Tembus Rp22.000: Biaya Impor dan Utang Valas Naik, Ekspor Berpeluang Menguat

JAKARTA — Penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi nasional. Dunia usaha diminta bersiap menghadapi berbagai kemungkinan apabila tekanan terhadap nilai tukar rupiah berlanjut.

Wakil Ketua Umum bidang Penguatan Potensi Daerah Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Ir. K. Wirawan, mengatakan skenario ekstrem berupa nilai dolar menembus Rp22.000 per dolar dapat berdampak luas, tidak hanya bagi pelaku usaha tetapi juga terhadap berbagai sektor ekonomi nasional.

“Kenaikan nilai dolar secara signifikan akan meningkatkan biaya impor Indonesia, terutama pada sektor energi, bahan baku industri, serta beberapa komoditas pangan yang masih bergantung pada pasar luar negeri,” ujar Wirawan kepada wartawan di Jakarta, Selasa (10/3/2026).

Ia menjelaskan, industri yang menggunakan bahan baku impor berpotensi menghadapi kenaikan biaya produksi yang besar. Kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri dan meningkatkan inflasi apabila tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat.

Selain itu, perusahaan yang memiliki kewajiban pembayaran utang dalam mata uang dolar juga diperkirakan akan menghadapi tekanan lebih berat. Menurut Wirawan, pelemahan rupiah membuat beban pembayaran utang valuta asing meningkat signifikan, terutama jika berlangsung dalam jangka panjang.

“Ketika nilai tukar rupiah melemah, beban pembayaran utang dalam valuta asing akan meningkat secara signifikan. Jika situasi ini berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, maka dunia usaha harus melakukan berbagai langkah efisiensi agar tetap bertahan,” katanya.

Meski demikian, Wirawan menilai penguatan dolar tidak sepenuhnya berdampak negatif. Nilai dolar yang tinggi dinilai dapat membuka peluang bagi sektor ekspor Indonesia untuk meningkatkan daya saing di pasar internasional. Komoditas seperti mineral, batu bara, dan produk perkebunan disebut berpotensi memperoleh keuntungan dari kondisi tersebut.

Dalam menghadapi ketidakpastian global, Kadin mendorong langkah mitigasi yang terukur. Dunia usaha diharapkan memperkuat strategi bisnis, termasuk pengelolaan risiko nilai tukar, diversifikasi pasar, serta peningkatan penggunaan bahan baku dalam negeri.

Wirawan juga menekankan pentingnya sinergi pemerintah dan pelaku usaha untuk menjaga stabilitas ekonomi. Ia menilai kebijakan untuk menjaga stabilitas moneter, memperkuat cadangan devisa, dan mendorong pertumbuhan sektor produksi domestik akan sangat menentukan kemampuan Indonesia menghadapi tekanan ekonomi global.

Menurutnya, menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas nasional menjadi kunci dalam situasi ketidakpastian. “Gejolak ekonomi dunia adalah tantangan yang harus dihadapi bersama. Dengan kesiapan dan strategi yang tepat, Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga dapat memanfaatkan peluang yang muncul dari perubahan ekonomi global,” ujar Wirawan.