BERITA TERKINI
KAA Dinilai Tonggak Diplomasi Indonesia, Menteri Kebudayaan Tekankan Peran Budaya sebagai Kekuatan Pemersatu

KAA Dinilai Tonggak Diplomasi Indonesia, Menteri Kebudayaan Tekankan Peran Budaya sebagai Kekuatan Pemersatu

Konferensi Asia Afrika (KAA) dinilai menjadi salah satu tonggak terbesar dalam sejarah diplomasi Indonesia yang mengangkat nama Bandung ke panggung dunia. Peristiwa yang berlangsung pada 18–24 April 1955 itu juga disebut sebagai embrio lahirnya Gerakan Non-Blok yang resmi terbentuk pada 1961.

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengatakan KAA sejak awal digagas oleh lima negara pelopor, lalu berkembang menjadi forum besar yang diikuti puluhan negara Asia dan Afrika. Ia menyampaikan hal itu usai peringatan 71 tahun KAA di Hotel Savoy Homann, Bandung, Minggu (19/4/2026).

“Konferensi ini menjadi tonggak yang membuat Indonesia, khususnya Bandung, seolah menjadi ibu kota Asia dan Afrika. Semangatnya menyebar ke seluruh dunia,” kata Fadli.

Ia menambahkan, dokumentasi sejarah berupa foto-foto KAA memperlihatkan keakraban para pemimpin dunia pada masa itu. Menurutnya, hal tersebut mencerminkan kuatnya semangat solidaritas dan persahabatan lintas negara yang menjadi fondasi utama konferensi.

Peringatan KAA tersebut turut dihadiri para duta besar negara sahabat, anggota DPR RI Komisi X, DPRD, kalangan akademisi, seniman, budayawan, hingga insan media. Kehadiran berbagai unsur itu disebut menegaskan bahwa KAA bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga terus hidup dalam berbagai sektor, termasuk kebudayaan.

Dalam kesempatan itu, Fadli menekankan pentingnya budaya sebagai soft power atau kekuatan lunak dalam hubungan internasional. Ia membedakan budaya dari kekuatan militer (hard power), karena budaya dinilai dapat menjadi jembatan yang menyatukan perbedaan.

“Budaya adalah binding power, kekuatan yang menyatukan. Politik seringkali menimbulkan konflik, tetapi budaya justru bisa mempererat hubungan antarbangsa,” ujarnya.

Menurut Fadli, negara-negara Asia dan Afrika memiliki banyak kesamaan nilai budaya meski tetap beragam. Kesamaan tersebut dinilainya menjadi salah satu faktor penting dalam mempererat hubungan dan kerja sama antarnegara di kawasan.

Konferensi Asia Afrika diikuti 29 negara yang sebagian besar baru merdeka atau tengah berjuang memperoleh kemerdekaan. Selama enam hari pelaksanaan, para delegasi membahas isu-isu strategis yang kemudian melahirkan prinsip Dasasila Bandung atau Bandung Spirit, mencakup penghormatan terhadap hak asasi manusia, kedaulatan negara, non-intervensi, serta perdamaian dunia.

Pembahasan konferensi juga dibagi ke dalam tiga komisi utama, yakni politik, ekonomi, dan kebudayaan, yang menjadi dasar dalam membangun kerja sama internasional yang lebih adil dan setara.

Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan nilai historis KAA telah diakui dunia internasional. Ia menyebut pada 2015 peristiwa tersebut ditetapkan sebagai bagian dari UNESCO Memory of the World.

“Sepuluh tahun kemudian, pada Agustus 2025, kami mengajukan kepada pemerintah pusat untuk memulai proses pendaftaran kawasan Jalan Asia Afrika dari Simpang V hingga ruas Otista sebagai kawasan warisan dunia UNESCO,” kata Farhan.