Islamabad bersiap menggelar pertemuan antara delegasi Amerika Serikat dan Iran pada Sabtu (11/4/26) di tengah situasi regional yang memanas. Ibu kota Pakistan dilaporkan memperketat pengamanan, sementara rincian lokasi dan agenda perundingan dijaga ketat.
Dua delegasi dari Washington dan Teheran disebut akan tiba melalui Pangkalan Udara Nur Khan, fasilitas militer Pakistan. Dari sana, rombongan dijadwalkan bergerak menuju kawasan Red Zone, area pusat pemerintahan Islamabad yang pada hari pertemuan dikunci rapat dengan pengamanan berlapis.
Sejumlah langkah pengamanan diterapkan, mulai dari pembatasan akses di titik-titik strategis hingga minimnya informasi resmi yang disampaikan ke publik. Detail lokasi perundingan dirahasiakan, waktu kedatangan dibuat tidak pasti, dan pernyataan pejabat Pakistan disampaikan secara terbatas, termasuk melalui unggahan singkat di platform X.
Di sekitar area yang disebut-sebut menjadi lokasi pertemuan, tampak barikade, kendaraan lapis baja, serta aparat berseragam. Pengamanan yang ketat menjadi penanda bahwa pertemuan ini berlangsung dalam suasana rapuh, ketika risiko eskalasi konflik masih membayangi.
Di balik pertemuan tingkat tinggi, proses persiapan disebut melibatkan kerja teknis yang intens. Kantor Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dinilai memegang peran penting dalam merajut dokumen awal, merangkum tuntutan, menyaring kepentingan, dan mencari titik temu di antara dua pihak yang selama ini kerap berhadapan dalam konflik.
Materi pembicaraan diperkirakan tidak berhenti pada isu penghentian perang. Amerika Serikat disebut membawa sejumlah syarat, di antaranya pembatasan ketat program nuklir Iran, jaminan keamanan jalur energi terutama di Selat Hormuz, serta komitmen Iran untuk menahan pengaruh militernya di kawasan, termasuk di Lebanon.
Sementara itu, Iran disebut membawa rencana sepuluh poin yang berisi tuntutan penghentian total sanksi, pencairan aset yang dibekukan, jaminan tidak ada serangan militer, serta pengakuan atas hak kedaulatan penuh, termasuk pengembangan teknologi nuklir sipil. Tuntutan tersebut juga dikaitkan dengan memori historis Iran, termasuk peristiwa 1953, serta pengalaman panjang embargo, tekanan ekonomi, dan isolasi.
Perundingan ini dipandang sebagai ujian kepercayaan. Jika tuntutan Iran ditolak sepenuhnya, optimisme yang muncul dinilai bisa runtuh dan memperkuat anggapan bahwa pertemuan hanya menjadi formalitas sebelum konflik memasuki fase yang lebih keras.
Dari pihak Amerika Serikat, delegasi disebut dipimpin Wakil Presiden JD Vance. Sementara dari Iran, nama Mohammad Bagher Ghalibaf dan Abbas Araghchi mengemuka. Kombinasi keduanya dipandang merepresentasikan dua pendekatan: ketegasan politik-militer dan jalur diplomasi.
Di tengah berbagai tekanan, meja perundingan tetap dipandang sebagai opsi yang lebih rendah biayanya dibanding eskalasi terbuka. Namun, pesimisme juga menguat karena sejarah negosiasi AS–Iran kerap diwarnai ketidakpercayaan dan perubahan dinamika di lapangan yang mengganggu proses diplomasi.
Perundingan ini berlangsung dengan latar serangan Israel ke Lebanon yang dilaporkan menewaskan ratusan warga sipil. Reaksi internasional kembali mengikuti pola yang berulang: kecaman, keprihatinan, dan seruan menahan diri. Amerika Serikat disebut meminta operasi dilakukan secara lebih tertutup atau low key.
Dengan situasi tersebut, pertemuan di Islamabad tidak hanya dipandang sebagai dialog dua negara, melainkan juga ujian apakah diplomasi masih dapat bekerja ketika ketegangan belum mereda sepenuhnya. Hasilnya akan menentukan apakah perundingan menjadi pintu menuju penurunan eskalasi, atau sekadar jeda singkat di tengah konflik yang belum selesai.