TEHERAN — Pemerintah Iran secara resmi mengumumkan penutupan total Selat Hormuz pada Minggu (1/3/2026). Keputusan ini diambil setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan gabungan yang disebut melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Pengumuman tersebut segera memicu peningkatan ketegangan geopolitik dan memunculkan kekhawatiran akan dampak besar terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Dalam dekret militer yang disiarkan melalui televisi pemerintah Iran, Teheran melarang seluruh kapal—baik tanker minyak maupun kapal kargo komersial—melintasi Selat Hormuz hingga waktu yang tidak ditentukan.
“Kami telah memperingatkan bahwa jika keamanan kami diganggu, maka tidak akan ada seorang pun yang bisa menikmati keamanan di kawasan ini. Selat Hormuz kini resmi berada di bawah blokade penuh hingga perintah lebih lanjut,” demikian pernyataan militer Iran.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan mengerahkan ranjau laut, sistem rudal pertahanan pesisir, serta drone tempur di sepanjang jalur perairan tersebut.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur paling vital bagi distribusi energi global. Sekitar 20–30 persen pasokan minyak mentah dunia setiap hari melewati perairan sempit ini, terutama dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Irak.

