Iran menutup Selat Hormuz setelah berulang kali memperingatkan bahwa serangan militer terhadap wilayahnya akan dibalas dengan langkah tersebut. Penutupan jalur pelayaran strategis itu, disertai serangkaian insiden keamanan di sekitar Teluk, meningkatkan tekanan global dan domestik terhadap Amerika Serikat dan Israel untuk menghentikan perang.
Di tengah situasi ini, sebuah kapal kontainer dilaporkan terkena proyektil tak dikenal saat berada di lepas pantai Uni Emirat Arab (UEA), dekat Selat Hormuz. Insiden yang dicurigai melibatkan Iran itu terjadi sekitar 46 kilometer dari emirat Ras Al Khaimah.
Operasi Perdagangan Maritim Britania Raya (UKMTO) menyatakan kapten kapal melaporkan kerusakan akibat proyektil yang tidak diketahui. “Tingkat kerusakannya tidak diketahui, tetapi semua awak kapal selamat,” kata UKMTO pada Rabu (11/3/2026). Pihak berwenang masih menyelidiki insiden tersebut.
Perkembangan ini dinilai menandai perluasan strategi Iran. Selain menutup selat, Iran mulai menyasar kapal, ladang minyak, dan kilang negara-negara Teluk Arab. Pada Rabu pagi, Kuwait dilaporkan menembak jatuh delapan pesawat nirawak (drone) Iran yang bergerak di wilayahnya. Sementara itu, Arab Saudi mencegat lima drone yang menuju ke ladang minyak Shaybah.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz, pintu masuk menuju Teluk Persia. Selat ini menjadi jalur penting distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global. Penutupan selat terjadi sejak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya.
Selama 1–10 Maret 2026, setidaknya 10 kapal tanker minyak di atau dekat selat tersebut disebut telah menjadi target, terkena serangan, atau dilaporkan mengalami serangan. Data itu merupakan kompilasi UKMTO, Organisasi Maritim Internasional (IMO), dan pihak berwenang Iran.
Sejumlah perusahaan pelayaran global juga mengeluarkan peringatan layanan dan menangguhkan operasi di area tersebut, termasuk Maersk, Hapag-Lloyd, CMA-CGM, dan MSC. Saat ini, sekitar 400 kapal tanker minyak dan produk dilaporkan menganggur di perairan Teluk.
Tom Goldsby, Ketua Logistik di Departemen Manajemen Rantai Pasokan Universitas Tennessee, mengatakan kapal-kapal yang tertahan di Teluk tidak akan bergerak dalam waktu dekat. “Ada juga sejumlah besar kapal yang menuju ke Teluk untuk menggantikan mereka, dan tentu saja mereka berlabuh atau pergi ke tempat lain sekarang,” ujarnya.
Gangguan lalu lintas di Selat Hormuz berimbas langsung pada perdagangan minyak dan perekonomian global. Penutupan selat sempat mendorong harga minyak naik mendekati 120 dolar AS per barel pada Senin (9/3/2026). Meski harga minyak Brent turun ke 87,8 dolar AS per barel pada Selasa (10/3/2026), kekhawatiran pasar dinilai belum mereda.
Manajer Portofolio Neuberger Berman, Hakan Kaya, menilai besarnya risiko tidak bisa dianggap remeh. Menurutnya, perlambatan satu hingga dua minggu masih dapat ditanggung perusahaan minyak, tetapi penutupan penuh lebih dari sebulan dapat mendorong harga minyak mentah kembali ke tiga digit dan membawa harga gas alam Eropa menuju tingkat krisis seperti tahun 2022.
Peringatan serupa disampaikan Presiden dan CEO Aramco, Amin Nasser. Ia menyebut, jika kapal tanker minyak terus tidak bisa melewati selat, dampaknya akan serius bagi ekonomi global.
Selat Hormuz merupakan jalur air berkelok dengan titik tersempit sekitar 33 kilometer, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi akses pelayaran ke berbagai kawasan dunia. Meski Iran dan Oman memiliki perairan teritorial di selat tersebut, jalur ini dipandang sebagai perairan internasional yang dapat dilalui semua kapal.
Jalur ini krusial bagi kapal tanker yang mengangkut sekitar 20 persen kebutuhan minyak dan gas dunia dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, UEA, dan Iran. Sebagian besar pasokan itu mengalir ke pasar Asia, termasuk China.
Penutupan Selat Hormuz kali ini mencerminkan sikap Iran yang dinilai lebih tegas dibanding masa lalu. Pada perang Iran–Irak di era 1980-an, kedua pihak pernah menyerang kapal tanker dan kapal lain, termasuk dengan ranjau, untuk menghentikan lalu lintas pada beberapa periode. Saat perang Iran–Israel selama 12 hari pada Juni 2025, Teheran sempat mengancam dan menyerang kapal yang mencoba melintas, tetapi tidak menutup selat secara resmi. Iran juga hanya menutup sebagian selat pada Februari 2026 untuk latihan militer.
Penutupan selat dan serangan terhadap aset minyak negara-negara Teluk disebut sebagai bagian dari upaya Iran menciptakan gejolak ekonomi global guna menekan AS dan Israel mengakhiri kampanye militer. Tekanan ini dinilai berpotensi semakin kuat karena Amerika Serikat akan menggelar pemilu paruh waktu pada November 2026.
Presiden AS Donald Trump, menurut laporan, berupaya menghindari lonjakan harga minyak berkepanjangan. Ia menyatakan perang dapat berakhir lebih cepat dan mengancam serangan lebih keras jika Iran tidak berhenti menutup selat. Trump juga mengizinkan India untuk sementara mengimpor minyak Rusia yang terkena sanksi AS terkait perang di Ukraina.
Situasi ini memunculkan perbandingan dengan guncangan global pada 1973, ketika dunia menghadapi krisis minyak. Namun, sejumlah pengamat menilai kondisi 2026 masih berbeda. Pada 1973, lonjakan harga bersifat politis karena negara-negara Arab anggota OPEC melakukan embargo minyak terhadap negara-negara Barat yang pro-Israel selama Perang Yom Kippur.
Kali ini, guncangan dinilai lebih bersifat logistik. Iran menghambat distribusi sehingga negara-negara Teluk mulai mengurangi produksi akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan lokal. Ahli energi dari Institut untuk Urusan Internasional dan Strategis (IRIS) Perancis, Francis Perrin, mengatakan Arab Saudi, Irak, UEA, dan Kuwait memiliki kapasitas untuk menstabilkan pasar, tetapi terhambat karena bergantung pada Selat Hormuz.
Karena perbedaan tersebut, para pengamat menilai kecil kemungkinan harga minyak melonjak separah 1973, ketika harga naik empat kali lipat hanya dalam tiga bulan. Selain itu, negara-negara OECD kini memiliki strategi lebih baik dengan mengandalkan cadangan strategis setara tiga bulan impor.
Cadangan itu dikelola Badan Energi Internasional (IEA), lembaga yang dibentuk setelah krisis 1973. Untuk mengimbangi blokade Iran, IEA disebut dapat menyuntikkan sebagian cadangan ke pasar guna menekan spekulasi harga dan menutup kesenjangan pasokan. Namun, Perrin mengingatkan, “katup pengaman” tersebut efektif hanya jika konflik tidak berlangsung terlalu lama.

