BERITA TERKINI
Iran Tegaskan Siap Hadapi Tindakan Bermusuhan Sambil Terus Tempuh Jalur Diplomasi

Iran Tegaskan Siap Hadapi Tindakan Bermusuhan Sambil Terus Tempuh Jalur Diplomasi

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Teheran tetap serius menempuh jalur diplomasi sembari mempertahankan kesiapan penuh menghadapi setiap “tindakan bermusuhan”. Pernyataan itu disampaikan saat ia bertemu Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Beijing, Rabu.

Menurut Kementerian Luar Negeri Iran, Araghchi memaparkan perkembangan terbaru upaya diplomatik dan sejumlah inisiatif untuk mengakhiri perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Ia juga menyinggung negosiasi yang sedang dimediasi Pakistan antara Teheran dan Washington.

“Iran, sebagaimana bertindak tegas dalam membela diri dan tetap sepenuhnya siap menghadapi setiap agresi, juga serius dan teguh di bidang diplomasi,” kata Araghchi.

Dalam pertemuan tersebut, Araghchi memuji sikap China yang menentang apa yang ia sebut sebagai pelanggaran hukum internasional oleh Amerika Serikat dan Israel selama konflik 40 hari. Ia berharap China, yang saat ini memegang presidensi bergilir Dewan Keamanan PBB, terus memainkan “peran konstruktif” untuk mencegah pelanggaran lebih lanjut terhadap perdamaian dan keamanan internasional.

Melalui pernyataan di platform X, Araghchi menyebut pertemuannya dengan Wang sebagai “pertemuan konstruktif”. Ia mengatakan kedua pihak kembali menegaskan hak Iran untuk menjaga “kedaulatan nasional dan martabat nasionalnya”, sementara Teheran juga menghargai proposal empat poin China untuk menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.

“Iran percaya kepada China dan menantikan peran aktifnya yang berkelanjutan dalam mendorong perdamaian dan mengakhiri konflik,” ujar Araghchi. Ia juga menyatakan dukungan Iran terhadap upaya pembentukan “kerangka kawasan pascaperang baru” yang dapat menyeimbangkan pembangunan dan keamanan.

Dari pihak China, Wang Yi memuji apa yang disebutnya sebagai “pendekatan bertanggung jawab” Iran dan kembali menegaskan dukungan Beijing terhadap kedaulatan serta integritas wilayah Iran, menurut pernyataan Iran. Wang juga menyampaikan penolakan China terhadap penggunaan kekuatan dan kelanjutan “perang ilegal”, serta memperingatkan dampaknya tidak hanya dirasakan Iran, tetapi juga kawasan dan komunitas internasional.

Wang menegaskan kembali dukungan China terhadap diplomasi dan dialog sebagai satu-satunya jalan penyelesaian sengketa di kawasan. Kedua pihak turut membahas kerja sama ekonomi dan perdagangan bilateral serta sepakat melanjutkan konsultasi tingkat tinggi antara kedua negara.

Dalam wawancara terpisah dengan stasiun televisi pemerintah Iran IRIB, Araghchi mengatakan para pejabat China menilai Iran muncul dari perang dengan posisi internasional yang lebih kuat. “Rekan-rekan kami di China percaya Iran setelah perang berbeda dengan Iran sebelum perang,” ujarnya.

Menurut Araghchi, Teheran telah menunjukkan kemampuan dan kekuatannya sehingga “fase baru” kerja sama antara Iran dan negara-negara lain akan dimulai. Ia menambahkan pembicaraan dengan pihak China juga mencakup upaya mengakhiri perang, negosiasi yang sedang berlangsung, sanksi, program nuklir Iran, serta isu bilateral.

Araghchi menyebut Selat Hormuz menjadi “salah satu topik serius” yang dibahas, termasuk perlunya penghormatan terhadap hak-hak Iran dan perbedaan pandangan terkait isu tersebut.

Kunjungan Araghchi berlangsung menjelang rencana pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14–15 Mei, di tengah ketegangan di Selat Hormuz yang masih diblokade.

Pertemuan di Beijing itu menjadi pembicaraan tatap muka pertama Araghchi dan Wang sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Sebelumnya, kedua pihak beberapa kali melakukan percakapan melalui telepon selama konflik berlangsung.