BERITA TERKINI
Iran Sinyalkan Jalur Diplomasi, Trump Klaim Kesepakatan Damai Bisa Segera Tercapai

Iran Sinyalkan Jalur Diplomasi, Trump Klaim Kesepakatan Damai Bisa Segera Tercapai

Iran mulai memberi sinyal membuka jalur diplomasi di tengah perang yang terus mengguncang Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menekankan pentingnya “dialog dan diplomasi” saat berbicara dengan Menteri Luar Negeri Pakistan, ketika Teheran menelaah proposal perdamaian 14 poin dari Amerika Serikat untuk mengakhiri perang Iran–AS–Israel.

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya tekanan ekonomi serta ancaman eskalasi militer, termasuk di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia. Iran dilaporkan sedang menyiapkan respons resmi atas proposal Washington, sementara Pakistan kembali memainkan peran sebagai mediator komunikasi antara Teheran dan Washington melalui jalur negosiasi tidak langsung yang dalam beberapa pekan terakhir aktif difasilitasi Islamabad.

Dari Washington, Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran berjalan “sangat baik” dan menilai peluang tercapainya kesepakatan damai terbuka lebar. Trump juga mengatakan perang “akan segera berakhir” jika Iran menerima proposal tersebut. Namun, ia kembali menyampaikan ancaman bahwa AS siap meningkatkan serangan militer ke “level yang jauh lebih tinggi” apabila Teheran menolak tawaran Washington.

Di sisi lain, laporan menyebut Iran berupaya memperkuat klaim kontrol atas Selat Hormuz. Perusahaan intelijen pelayaran Lloyd’s List menyatakan jalur pelayaran itu praktis tertutup setelah Iran membentuk badan baru yang mengatur izin kapal melintas. Sebelum perang pecah akibat serangan AS–Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026, Selat Hormuz disebut masih terbuka bebas bagi perdagangan internasional.

Ketegangan di Hormuz tetap menjadi perhatian utama pasar energi global. Meski demikian, optimisme atas kemungkinan tercapainya kesepakatan damai dilaporkan mulai menekan harga minyak dunia. Harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) pada perdagangan Kamis pagi disebut kembali berada di bawah US$100 per barel setelah sebelumnya sempat melonjak tajam akibat ancaman blokade total Iran.

Gedung Putih mengakui adanya gangguan serius terhadap pasar energi global akibat perang. Juru bicara Gedung Putih Taylor Rogers mengatakan pemerintahan Trump menyiapkan langkah mitigasi menghadapi lonjakan harga bahan bakar jangka pendek, salah satunya dengan melonggarkan penerapan Jones Act agar distribusi energi domestik AS lebih fleksibel. Pemerintah AS mengklaim langkah itu memungkinkan sekitar 9 juta barel minyak Amerika dialihkan ke berbagai wilayah domestik sehingga mengurangi ketergantungan impor energi.

Kekhawatiran dampak ekonomi perang juga dilaporkan muncul dari industri penerbangan AS. Sejumlah pihak menilai tarif penerbangan berpotensi terus meningkat jika konflik tidak segera dihentikan, dengan lonjakan harga avtur menjadi tekanan baru bagi transportasi global.

Di lapangan, konflik disebut belum menunjukkan tanda-tanda benar-benar mereda. Israel dilaporkan kembali membombardir Beirut, Lebanon, dalam serangan pertama ke ibu kota Lebanon sejak gencatan senjata nominal dimulai pada 17 April 2026. Hamas juga mengecam serangan Israel ke Gaza dan menyebutnya sebagai kelanjutan “perang pemusnahan.”

Dari Teheran, media semi-resmi Iran melaporkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian bertemu hampir dua setengah jam dengan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei. Pertemuan itu disebut berlangsung “langsung, terbuka, dan penuh kedekatan.” Mojtaba Khamenei dilaporkan belum pernah tampil di depan publik sejak ditunjuk menggantikan Ali Khamenei yang tewas dalam serangan udara pada hari pertama perang, 28 Februari 2026, sementara pejabat AS sebelumnya mengklaim Mojtaba mengalami luka berat dalam serangan yang sama.

Situasi di Selat Hormuz juga diwarnai insiden keamanan. Iran pada Kamis, 7 Mei 2026, membantah tuduhan menyerang kapal kargo Korea Selatan HMM Namu berbendera Panama. Kedutaan Besar Iran di Seoul menyatakan “secara tegas menolak dan menyangkal” tuduhan bahwa angkatan bersenjata Iran berada di balik ledakan di kapal tersebut. Kapal bulk carrier itu dilaporkan terbakar pada Senin, 4 Mei 2026, saat melintasi Selat Hormuz dengan membawa 24 awak.

Sementara itu, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengonfirmasi jet tempur AS menembak kemudi sebuah tanker minyak Iran di Teluk Oman pada Rabu, 6 Mei 2026. Menurut CENTCOM, kapal tanker tersebut berusaha menembus blokade Amerika terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Di Amerika Serikat, perang juga memicu sorotan politik. Laporan menyebut 12 senator Partai Demokrat mendesak militer AS menjelaskan koordinasi dengan Israel terkait penetapan “zona evakuasi” besar-besaran di Lebanon dan Iran. Para senator menilai praktik itu berpotensi melanggar hukum internasional karena disebut telah menyebabkan pengusiran permanen warga sipil dan penghancuran rumah-rumah penduduk, serta menyoroti adanya korban sipil yang tewas setelah menolak meninggalkan wilayah yang ditetapkan sebagai zona evakuasi.

Perkembangan terbaru menunjukkan perang Iran–AS–Israel memasuki fase yang menentukan. Di satu sisi, jalur diplomasi mulai terbuka melalui mediasi Pakistan dan Iran tengah mempelajari proposal Washington. Namun di sisi lain, ancaman eskalasi militer, perebutan kendali Selat Hormuz, serta dampak terhadap pasar energi global masih membayangi, sementara dunia menanti apakah Teheran akan menerima proposal tersebut atau memilih memperpanjang konfrontasi.