Iran menyampaikan kepada sejumlah negara mediator bahwa mereka tidak mempercayai Amerika Serikat dalam upaya perundingan, dengan merujuk pada pengalaman sebelumnya ketika proses diplomasi disebut dua kali gagal, menurut laporan portal Axios yang mengutip sumber terkait.
Dalam laporan tersebut, kegagalan perundingan disebut terjadi pada dua kesempatan. Pada Juni, Israel dengan dukungan Presiden AS Donald Trump menyerang Iran menjelang putaran pembicaraan. Sementara pada Februari, AS dan Israel melancarkan operasi setelah tercapai kesepakatan awal terkait isu nuklir.
“Kami tidak ingin tertipu lagi,” kata salah satu sumber seperti dikutip Axios.
Iran juga disebut telah menyampaikan kepada otoritas Pakistan, Mesir, dan Turki bahwa peningkatan kehadiran militer AS di kawasan memperkuat kekhawatiran Teheran. Menurut Iran, tawaran perundingan damai dari Trump bisa jadi hanya strategi.
Pada Selasa, Trump mengatakan telah menunjuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, serta menantunya Jared Kushner sebagai tim negosiasi AS dengan Iran. Trump menambahkan proses negosiasi akan kembali dilanjutkan pada Minggu dan menyatakan Teheran menunjukkan keseriusan untuk mencari penyelesaian konflik.
Namun pada Senin, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membantah pernyataan Trump. Ia menyatakan Iran belum menggelar pembicaraan dengan AS dan menilai ada berita palsu yang digunakan untuk memengaruhi pasar.
Sebelumnya, pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
AS dan Israel pada awalnya menyatakan serangan “pendahuluan” tersebut diperlukan untuk menghadapi ancaman dari program nuklir Iran. Namun kemudian, keduanya juga menegaskan keinginan untuk melihat perubahan kekuasaan di Iran.

