Iran memperingatkan kemungkinan perang berkepanjangan dengan Amerika Serikat dan Israel yang, menurut Teheran, dapat “menghancurkan” ekonomi dunia. Pernyataan itu muncul ketika Presiden AS Donald Trump pada Kamis (12/3) bersumpah akan “menyelesaikan pekerjaan”, dengan menyatakan hanya sedikit target yang tersisa untuk diserang oleh pasukan Amerika.
Peringatan dari Iran disampaikan di tengah pertempuran di sekitar Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Ketegangan di kawasan tersebut mengguncang pasar energi, memicu pelepasan darurat dari cadangan global serta penarikan terbatas dari persediaan AS.
Harga minyak dilaporkan melonjak sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran yang disebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran dan mendorong Timur Tengah ke dalam konflik. Serangan rudal serta drone Iran kemudian menghentikan hampir seluruh pengiriman melalui Selat Hormuz, memaksa sejumlah pemerintah berupaya mengatasi dampaknya.
Dalam pidatonya di Hebron, Kentucky, Trump mengatakan AS harus “menyelesaikan pekerjaan”. “Kita tidak ingin pergi lebih awal, bukan?” ujarnya saat membahas operasi AS-Israel. Trump juga menyatakan Washington akan menggunakan cadangan strategis AS “sedikit” untuk membantu menstabilkan pasar, sementara Badan Energi Internasional disebut menyepakati pelepasan rekor 400 juta barel.
Trump sebelumnya mengisyaratkan perang dapat segera berakhir. Ia mengatakan pasukan AS telah menyerang 28 kapal penyebar ranjau Iran dan menambahkan bahwa “praktis tidak ada lagi yang tersisa untuk ditargetkan”. Dalam wawancara dengan Axios, Trump menyatakan, “Kapan pun saya ingin itu berakhir, itu akan berakhir.” Namun, militer Israel memberi sinyal berbeda dengan menyebut kampanye mereka masih jauh dari selesai dan masih memiliki “banyak target”.
Konflik yang memasuki hari ke-12 turut memunculkan kekhawatiran dampak ekonomi yang lebih luas. Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan akan menyerang “pusat ekonomi dan bank” yang terkait kepentingan AS dan Israel, yang dilaporkan mendorong lebih banyak perusahaan internasional mengevakuasi staf dari Dubai.
Ali Fadavi, penasihat panglima tertinggi IRGC, mengatakan AS dan Israel “harus mempertimbangkan kemungkinan” terlibat dalam perang gesekan jangka panjang yang akan menghancurkan ekonomi Amerika dan ekonomi dunia. Iran juga menyatakan menargetkan dua kapal dagang di Teluk setelah kapal-kapal itu memasuki Selat Hormuz “setelah mengabaikan peringatan” angkatan lautnya.
IRGC menegaskan Teheran mempertahankan kendali penuh atas jalur air strategis tersebut dan menyatakan angkatan bersenjata “tidak mengabaikan tugas mereka bahkan untuk sesaat pun”. Para analis memperingatkan gangguan berkepanjangan terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz—yang juga disebut membawa sekitar sepertiga pupuk untuk produksi pangan global—dapat menimbulkan guncangan ekonomi berat, terutama di Asia dan Eropa.
Di ranah diplomatik, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang menuntut Iran menghentikan serangan terhadap negara-negara Teluk. Duta besar Republik Islam untuk PBB menanggapi dengan menuduh Dewan Keamanan melakukan “penyalahgunaan terang-terangan” terhadap mandatnya.
Konflik juga mengganggu dua sektor utama ekonomi Teluk: produksi energi dan penerbangan komersial. Pada Rabu, sebuah drone jatuh di dekat bandara Dubai dan melukai empat orang, menurut otoritas setempat. Drone lain dilaporkan menghantam tangki bahan bakar di pelabuhan Salalah, Oman, menurut Kantor Berita Oman.
Sementara itu, Lebanon disebut semakin terseret dalam eskalasi. Dalam insiden yang disebut sebagai yang pertama sejak perang dimulai, drone Israel menyerang target di Teheran pada Rabu malam dan menewaskan anggota pasukan keamanan, menurut kantor berita Fars. IRGC menyatakan tepat setelah tengah malam pada Kamis bahwa mereka melakukan operasi rudal gabungan dengan Hizbullah terhadap target di Israel.
Di AS, para pejabat Pentagon dilaporkan memberi pengarahan kepada anggota parlemen bahwa biaya perang melampaui US$11,3 miliar dalam enam hari pertama, menurut laporan The New York Times yang mengutip sumber yang mengetahui pengarahan rahasia tersebut.
Lebanon melaporkan jumlah korban tewas akibat pertempuran selama 10 hari antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran telah melampaui 630 orang. Lebih dari 800.000 orang juga disebut telah terdaftar sebagai pengungsi. Lebanon terseret lebih dalam ke perang sejak pekan lalu ketika Hizbullah menyerang Israel setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Serangan Israel pada Rabu menghantam sebuah gedung apartemen di pusat Beirut. Rekaman AFPTV menangkap suara serangan yang datang diikuti bola api dari gedung tersebut. Seorang pemilik toko roti, Fawzi Asmar, mengatakan ia berlari menyelamatkan istri dan putrinya dan bersembunyi di balik dinding sebelum serangan kedua menghantam.
Israel kemudian melancarkan apa yang mereka sebut sebagai “gelombang serangan skala besar” sebagai respons atas serangan roket Hizbullah. Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan delapan orang tewas dalam serangan Israel di wilayah timur negara itu.
Di Iran, serangan AS-Israel terjadi beberapa pekan setelah otoritas menumpas protes massal, meski sekutu tersebut menegaskan perubahan rezim bukan tujuan mereka. Pejabat Iran memperingatkan perbedaan pendapat akan diperlakukan sebagai pengkhianatan. Kepala polisi Ahmad-Reza Radan mengatakan para pengunjuk rasa akan dipandang dan diperlakukan sebagai “musuh”.
Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, belum muncul di depan umum. Para pejabat pada Rabu menyatakan ia terluka namun “aman”. Kementerian kesehatan Iran pada 8 Maret menyebut lebih dari 1.200 orang tewas akibat serangan AS dan Israel, meski angka tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen.
Ribuan pelayat berkumpul di Teheran untuk memperingati para komandan yang tewas, dalam pertemuan publik terbesar sejak perang dimulai, dengan pengamanan ketat. Penasihat senior pemimpin tertinggi yang baru, Yahya Rahim Safavi, melontarkan pernyataan keras dengan menyebut Trump sebagai “presiden Amerika yang paling korup dan bodoh” serta “Setan itu sendiri”.
Meski Teheran memperingatkan konflik yang berkepanjangan, sejumlah analis menilai risiko eskalasi luas di luar kawasan tetap terbatas untuk sementara. Stephen Zunes, profesor politik dan direktur program studi Timur Tengah di Universitas San Francisco, mengatakan Iran biasanya tidak terlibat dalam serangan teror berskala besar dan terkoordinasi di luar Timur Tengah. Ia menambahkan, meski Teheran “kadang-kadang membunuh para pembangkang di Eropa dan tempat lain”, “serangan teroris acak” bukan modus operandi Iran.
Zunes menilai tindakan terorisme besar yang terkoordinasi dan diarahkan oleh pemerintah Iran “sangat tidak mungkin terjadi saat ini”. Mengenai durasi konflik, ia mengatakan Teheran mungkin terus berperang bahkan jika Washington menyatakan kemenangan, karena khawatir AS dan Israel dapat melancarkan serangan baru di kemudian hari. Menurutnya, kepemimpinan Iran memandang konfrontasi ini sebagai “ancaman eksistensial” dan mungkin bersedia menanggung kerugian lebih lanjut untuk mengirim pesan bahwa mereka akan terus menimbulkan kerusakan kecuali ada jaminan terhadap serangan lanjutan.

