BERITA TERKINI
Iran Paparkan Skenario Perang dengan AS: Serangan Balasan, Perang Siber, hingga Gangguan Jalur Minyak

Iran Paparkan Skenario Perang dengan AS: Serangan Balasan, Perang Siber, hingga Gangguan Jalur Minyak

TEHERAN — Iran memaparkan skenario yang mereka siapkan apabila terjadi perang melawan Amerika Serikat (AS), sembari menegaskan Teheran tidak akan memulai perang. Dalam rencana yang dipublikasikan Tasnim dan dikutip Telegraph, Iran menggambarkan strategi bertahap yang mencakup serangan balasan terhadap pangkalan militer AS, pembukaan front baru oleh sekutu di kawasan, operasi siber, hingga upaya melumpuhkan jalur perdagangan minyak dunia yang berpotensi mendisrupsi ekonomi global.

Menurut skenario tersebut, Iran meyakini faktor geografis Timur Tengah dapat menjadi keunggulan untuk menghadapi keunggulan teknologi militer AS. Rencana itu menguraikan lima tahap peperangan, yang dimulai dari asumsi serangan awal oleh AS.

Tahap pertama: AS menyerang Iran

Dalam gambaran Iran, perang diawali dengan serangan udara dan rudal AS yang menargetkan situs nuklir, instalasi militer, dan markas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Disebutkan, banyak lokasi tersebut berada di kawasan padat penduduk. Skenario itu juga memperkirakan serangan dapat diluncurkan dari kapal induk, termasuk USS Abraham Lincoln yang disebut berada di kawasan, dari pengebom yang terbang dari AS atau pangkalan militer di Eropa, serta kemungkinan menggunakan pangkalan negara sekutu AS di Timur Tengah.

Laporan itu menyebut Pentagon telah merancang opsi serangan semacam ini selama beberapa dekade dan menyatakan serangan tersebut pernah direalisasikan ketika jet tempur AS mengebom situs nuklir Iran pada Juni 2025. Presiden Donald Trump, menurut laporan yang sama, juga beberapa kali mengancam akan menyerang Iran kembali, termasuk saat demonstrasi besar terjadi di Iran pada awal tahun ini.

Masih mengutip Telegraph, mantan kepala MI6 Sir Richard Dearlove mengatakan ia menilai peluang serangan “bisa dibilang tinggi”, dan menambahkan bahwa salah satu alasannya adalah dorongan Israel kepada Trump.

Dalam skenario itu, paket serangan AS disebut akan memanfaatkan jet siluman, munisi presisi tinggi, dan peluncuran rudal terkoordinasi untuk membebani sistem pertahanan udara Iran. Keunggulan teknologi, termasuk senjata hipersonik dan perangkat perang elektronik, dinilai memberi AS keuntungan signifikan.

Namun Iran mengeklaim telah menyiapkan langkah antisipasi, antara lain memindahkan aset-aset kritis, membangun struktur komando baru, serta mengembangkan fasilitas bawah tanah agar mampu bertahan dari serangan awal. Perhitungan Iran, menurut laporan tersebut, bukan hanya mencegah kerusakan, melainkan memastikan kemampuan melakukan serangan balasan.

“Kami siap untuk aksi apapun dari musuh,” kata Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi saat berkunjung ke kota rudal bawah tanah Iran pada Rabu pekan lalu.

Mousavi juga menyatakan, “Setelah perang 12 hari, kami mengganti doktrin militer dari defensif ke ofensif dengan mengadopsi sebuah kebijakan perang asimetris dan respons menghancurkan terhadap musuh.”