Iran menyatakan tetap membuka pintu diplomasi untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat, namun menegaskan bahwa kelanjutan proses tersebut bergantung pada respons Washington. Pernyataan ini disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, yang mengatakan Teheran telah menempuh langkah diplomatik dan kini menunggu keputusan dari pihak Amerika Serikat.
Menurut Gharibabadi, Iran telah menyampaikan rencana penyelesaian konflik melalui Pakistan. Langkah itu disebut bertujuan mencapai penghentian permanen atas perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Ia menekankan bahwa Iran mengedepankan diplomasi berbasis kepentingan untuk menyelesaikan persoalan, sembari menyatakan negaranya siap menghadapi dua kemungkinan arah ke depan.
“Bola sekarang ada di tangan mereka untuk memilih jalur diplomasi atau melanjutkan pendekatan konfrontatif,” ujar Gharibabadi.
Meski demikian, ia menyebut Iran tetap mempertahankan sikap tidak percaya terhadap Amerika Serikat. Gharibabadi juga menyinggung adanya serangan mendadak yang, menurutnya, dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat.
Sementara itu, Amerika Serikat sebelumnya menyampaikan bahwa negosiasi dengan Iran masih berlangsung, tetapi dilakukan melalui sambungan telepon, bukan pertemuan langsung di Pakistan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pembicaraan langsung dinilai tidak efisien karena memerlukan perjalanan panjang tanpa jaminan hasil yang memuaskan.
“Kami tidak terbang lagi dengan penerbangan 18 jam hanya untuk melihat selembar kertas. Sekarang kami melakukannya lewat telepon, dan itu jauh lebih baik,” kata Trump.
Trump juga menyebut hasil negosiasi kerap dapat diperkirakan sebelum pertemuan dilaksanakan. Meski format pembicaraan berubah, ia menilai proses negosiasi telah menunjukkan kemajuan. “Pembicaraan sudah berjalan jauh,” ujarnya.
Namun Trump menegaskan kesepakatan tidak akan tercapai tanpa komitmen dari Iran, terutama terkait penghentian ambisi pengembangan senjata nuklir. “Tidak akan pernah ada kesepakatan jika mereka tidak setuju bahwa tidak akan ada senjata nuklir,” tegasnya.
Di tengah upaya diplomasi yang masih berjalan, belum terlihat tanda-tanda terobosan signifikan dalam penyelesaian konflik. Situasi ini terus berdampak pada stabilitas geopolitik dan pasokan energi dunia. Dengan kedua pihak masih membuka opsi, peluang diplomasi tetap ada meski ketegangan tetap tinggi.