BERITA TERKINI
Iran Nyatakan Tak Ada Agenda Lanjutkan Diplomasi Nuklir dengan AS, Siapkan Aturan Baru di Selat Hormuz

Iran Nyatakan Tak Ada Agenda Lanjutkan Diplomasi Nuklir dengan AS, Siapkan Aturan Baru di Selat Hormuz

Pemerintah Iran menyatakan tidak memiliki agenda untuk melanjutkan pembicaraan nuklir dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat (AS). Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Teheran telah menutup pintu diplomasi nuklir dengan Washington dan kini mengalihkan fokus pada isu kedaulatan wilayah.

Salah satu perhatian utama Iran adalah rencana pemberlakuan mekanisme keamanan baru di Selat Hormuz. Araghchi menyebut selat strategis tersebut tidak akan kembali ke kondisi seperti sebelum perang, dan Iran sedang menyusun aturan baru yang disebut akan memperketat lalu lintas kapal asing.

Dalam pernyataannya, Araghchi juga mengatakan peta kekuatan global telah berubah setelah “Perang 40 Hari”. Ia menilai ketangguhan militer Iran saat ini menjadi faktor penangkal yang membuat negara lain tidak akan berani melakukan agresi terhadap Iran dalam waktu lama. “Dunia harus sadar bahwa Iran adalah kekuatan yang berpengaruh,” kata Araghchi, sebagaimana dikutip juru bicara komite Ebrahim Rezaei, Senin (4/5/2026), menurut WANA News Agency.

Araghchi turut menegaskan bahwa era ketika pihak luar dapat mendikte kebijakan Iran telah berakhir. Ia juga menyampaikan bahwa mekanisme baru di Selat Hormuz akan mencakup pembatasan bagi kapal-kapal dari negara yang dianggap musuh untuk melintasi jalur perdagangan energi tersebut.

Rencana perubahan pengelolaan Selat Hormuz ini diperkirakan memicu respons dari AS dan sekutunya, yang selama ini mengandalkan prinsip kebebasan navigasi di perairan internasional.

Di tengah meningkatnya ketegangan, sebuah kapal tanker minyak dilaporkan terkena serangan proyektil di Selat Hormuz pada Senin (4/5/2026) waktu setempat. Menanggapi insiden tersebut, Presiden AS Donald Trump mengatakan militer AS akan segera bertindak untuk membantu membebaskan kapal-kapal komersial yang terjebak di jalur vital perdagangan dunia itu.

“Saat ini banyak kapal yang terdampar di sana, dan kami akan membantu mereka keluar,” ujar Trump di Gedung Putih, mengutip Reuters. Trump tidak merinci strategi militer yang akan digunakan, namun menyatakan AS memiliki “kekuatan tempur yang luar biasa” yang telah bersiaga di kawasan.

Insiden di Selat Hormuz tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap dampaknya bagi perekonomian global, mengingat selat itu merupakan salah satu jalur paling penting bagi perdagangan energi dunia.