Perang yang pecah pada 28 Februari 2026 disebut belum mampu melumpuhkan Iran meski telah berlangsung lebih dari dua bulan. Dalam periode ini, Iran dinilai dapat menghadapi Amerika Serikat melalui eskalasi terbuka yang tidak hanya bersifat militer, tetapi juga merambah ranah diplomatik dan ekonomi.
Berbeda dengan konflik-konflik sebelumnya, Iran digambarkan menerapkan strategi yang lebih kompleks. Iran tidak hanya bertahan, tetapi juga berupaya membentuk tekanan multidimensi terhadap pihak lawan melalui kombinasi kekuatan militer asimetris dan diplomasi ekonomi.
Salah satu titik tekan utama berada pada rantai pasok energi global. Dalam waktu yang relatif singkat, tekanan terhadap jalur distribusi energi memunculkan efek berantai yang berdampak pada ekonomi Amerika, yang disebut sangat bergantung pada stabilitas pasar energi internasional.
Selat Hormuz menjadi elemen strategis dalam dinamika ini. Jalur tersebut merupakan rute vital distribusi minyak dunia, sehingga gangguan di kawasan itu berpotensi memengaruhi harga energi secara global. Iran disebut memanfaatkan posisi geografisnya bukan hanya untuk kepentingan militer, tetapi juga sebagai alat tawar dalam diplomasi internasional.
Kebijakan blokade parsial dan kontrol lalu lintas minyak, menurut laporan tersebut, menempatkan Washington pada dilema. Di satu sisi, Amerika Serikat menghadapi tuntutan untuk menjaga reputasi sebagai penjaga stabilitas global. Di sisi lain, intervensi militer lebih lanjut dinilai berisiko memperburuk situasi ekonomi domestik.
Tekanan terhadap Amerika juga digambarkan terlihat dari laporan terkurasnya lebih dari 50 persen amunisi dan persenjataan. Kondisi ini disebut melampaui ekspektasi awal dan memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan Washington mempertahankan perang jangka panjang.
Sementara itu, kehancuran sejumlah pangkalan militer Amerika di Timur Tengah disebut mempertegas perubahan keseimbangan kekuatan. Iran dinilai berupaya menunjukkan bahwa dominasi militer konvensional tidak otomatis menjamin kemenangan dalam perang modern yang bercorak hibrida.
Dalam konteks hubungan internasional, situasi ini dikaitkan dengan konsep security dilemma. Israel dan Amerika Serikat disebut menghadapi ketidakpastian eksistensial terkait bayang-bayang kemampuan nuklir Iran yang, meskipun belum sepenuhnya terverifikasi, dinilai cukup untuk menciptakan efek deterensi psikologis.
Ketegangan tersebut berlangsung di tengah ketidakpastian ekonomi global. Lonjakan harga minyak dan gangguan distribusi energi disebut menambah tekanan domestik bagi sekutu-sekutu Amerika di kawasan.
Negara-negara seperti Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi dilaporkan terdampak, baik karena efek langsung serangan maupun akibat terganggunya stabilitas ekonomi ketika ekspor minyak terhambat.
Di sisi lain, Iran disebut menunjukkan resiliensi ekonomi. Dengan memanfaatkan jaringan regional dan dukungan negara-negara tetangga, Iran dinilai mampu menjaga pasokan kebutuhan domestik tetap stabil.
Di ranah diplomasi, Iran disebut mengajukan proposal pembukaan Selat Hormuz melalui mediator seperti Oman dan Rusia. Langkah ini digambarkan sebagai taktik untuk mengalihkan tekanan diplomatik kepada Amerika Serikat.
Dengan perkembangan tersebut, kebuntuan perundingan damai dinilai tidak lagi semata berada di pihak Iran. Washington disebut menghadapi pilihan sulit antara memberikan konsesi atau melanjutkan eskalasi.
Di dalam negeri Amerika, keputusan Presiden Donald Trump untuk menyerang Iran atas dorongan Israel disebut memicu kontroversi politik. Elektabilitasnya dilaporkan mengalami tekanan akibat persepsi publik bahwa keputusan tersebut diambil secara terburu-buru.
Dilema politik itu disebut berkaitan dengan prestise kepemimpinan global Amerika. Mundur tanpa kemenangan yang jelas dinilai dapat merusak kredibilitas, sementara melanjutkan perang dianggap berisiko memperdalam krisis.
Laporan tersebut juga menyebut adanya faktor kepentingan ekonomi pribadi dan jaringan bisnis di Timur Tengah yang turut memperumit posisi Trump, sehingga memunculkan potensi konflik kepentingan dalam pengambilan keputusan strategis.
Selain militer dan ekonomi, Iran dinilai memanfaatkan strategi komunikasi global. Dengan membuka akses informasi secara langsung kepada media internasional, Iran disebut berupaya membangun narasi tandingan terhadap dominasi informasi Barat.
Keterbukaan ini diklaim dapat memperluas legitimasi internasional sekaligus mengurangi efektivitas propaganda pihak lawan. Dalam perang informasi, legitimasi dinilai memiliki bobot yang sebanding dengan kekuatan militer.
Secara keseluruhan, konflik ini digambarkan menunjukkan bahwa hasil perang modern tidak hanya ditentukan oleh kekuatan senjata, melainkan juga kemampuan mengelola diplomasi, ekonomi, dan informasi secara bersamaan. Iran dinilai memperlihatkan bagaimana negara dengan sumber daya terbatas dapat menantang hegemoni global melalui strategi yang terintegrasi.