Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengajukan proposal kepada sejumlah negara untuk membuka kembali Selat Hormuz, seiring Teheran memperluas langkah diplomatiknya di kawasan. Usulan itu disampaikan dalam rangkaian kunjungan ke beberapa negara, dengan Iran memilih menunda pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat untuk sementara waktu.
Menurut laporan Al-Jazeera pada Rabu (29/4), Araghchi melakukan pertemuan dengan para pemimpin regional dan global dalam waktu singkat, termasuk kunjungan ke Pakistan, Oman, dan Rusia. Agenda tersebut disebut bertujuan membangun dukungan yang lebih luas terhadap rencana Iran.
Dalam pertemuan di Oman, pembahasan difokuskan pada isu keamanan kawasan dan kebebasan navigasi. Isu nuklir disebut sengaja dikesampingkan untuk tahap berikutnya, sebagai bagian dari pendekatan yang memprioritaskan stabilitas regional terlebih dahulu.
Iran juga memanfaatkan Pakistan sebagai perantara komunikasi dengan Amerika Serikat. Setelah pembicaraan langsung antara kedua negara belum menghasilkan kesepakatan signifikan, jalur tidak langsung kembali diupayakan untuk menjaga komunikasi tetap berjalan.
Hingga kini, pemerintah Amerika Serikat belum memberikan tanggapan rinci atas proposal tersebut. Namun, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, yang menunjukkan perbedaan posisi masih menjadi tantangan dalam proses negosiasi.
Di sisi lain, Iran memperluas komunikasi dengan negara-negara Teluk dan Eropa. Kontak dilakukan dengan Qatar, Arab Saudi, Mesir, dan Prancis untuk membahas situasi kawasan, mencerminkan upaya diplomasi yang lebih inklusif.
Rusia juga menjadi bagian penting dalam strategi diplomatik Iran. Dalam pertemuan Araghchi dengan Presiden Vladimir Putin, kedua pihak membahas perkembangan terbaru konflik dan negosiasi, dengan Rusia dinilai memiliki peran sebagai penyeimbang geopolitik dalam situasi tersebut.
Sejumlah analis menilai langkah Iran ini bertujuan membangun dukungan lebih dulu sebelum memasuki negosiasi yang lebih luas.