BERITA TERKINI
Iran Intensifkan Diplomasi, Menlu Araghchi Sampaikan Proposal Perdamaian ke Sejumlah Negara

Iran Intensifkan Diplomasi, Menlu Araghchi Sampaikan Proposal Perdamaian ke Sejumlah Negara

Iran mengintensifkan upaya diplomatik di tengah konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Teheran menyatakan tekad untuk mendorong penyelesaian permanen melalui jalur perundingan, bukan semata berakhir di medan perang.

Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, melakukan serangkaian komunikasi dengan mitra di Asia dan Eropa untuk memaparkan proposal perdamaian terbaru Iran. Dalam percakapan telepon pada Jumat (30/4/2026) dan Sabtu (1/5/2026), Araghchi membahas perkembangan kawasan serta kemungkinan gencatan senjata dengan Washington bersama para menteri luar negeri dari Turki, Qatar, Arab Saudi, Mesir, Irak, Azerbaijan, Rusia, Korea Selatan, Jepang, Prancis, dan Italia, serta Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas.

Dalam pembicaraan tersebut, Araghchi juga menyampaikan tudingan terhadap AS dan Israel. Ia menilai “agresi militer” kedua negara menjadi penyebab meningkatnya ketidakamanan di Teluk dan Selat Hormuz—jalur pelayaran penting yang dilalui sebagian besar ekspor minyak Timur Tengah setiap hari.

Araghchi menegaskan Iran tetap membuka pintu diplomasi. Menurutnya, Iran tidak memulai perang dan bersedia menempuh jalur perundingan dengan syarat AS meninggalkan pendekatan “maksimalis”, ancaman, serta tindakan yang dinilai provokatif. Pada saat yang sama, ia menyatakan angkatan bersenjata Iran berada dalam kondisi siaga penuh untuk menghadapi ancaman apa pun.

Konflik ini disebut bermula pada 28 Februari, ketika Israel dan AS melancarkan serangan gabungan ke Teheran dan kota-kota lain di Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, sejumlah komandan senior, serta warga sipil. Iran kemudian membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menyasar Israel serta kepentingan AS di kawasan.

Gencatan senjata tercapai pada 8 April. Namun, perundingan antara delegasi Iran dan AS di Islamabad setelahnya tidak menghasilkan kesepakatan. Iran kemudian menyampaikan proposal baru untuk perundingan melalui Pakistan sebagai perantara, yang dipandang sebagai sinyal bahwa Teheran masih membuka ruang penyelesaian damai.

Dari sejumlah respons yang muncul, Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani menyambut baik pendekatan diplomatik Iran dan menyatakan kesiapan Doha untuk terus berperan sebagai mediator dalam memfasilitasi pembicaraan guna mengakhiri perang. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis menyatakan dukungan terhadap kelanjutan pendekatan diplomatik dengan harapan upaya tersebut dapat memulihkan perdamaian di kawasan Asia Barat.