BERITA TERKINI
Iran Buka Peluang Negosiasi, Namun Ragukan Diplomasi AS Usai Diserang Saat Perundingan

Iran Buka Peluang Negosiasi, Namun Ragukan Diplomasi AS Usai Diserang Saat Perundingan

Iran menyatakan terbuka terhadap upaya negosiasi damai untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat, namun menegaskan belum dapat sepenuhnya mempercayai langkah Washington. Teheran menilai pengalaman diserang saat proses perundingan menjadi alasan utama perlunya jaminan keamanan sebelum melangkah lebih jauh.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan peluang berakhirnya perang dalam percakapannya dengan Presiden Dewan Eropa, António Costa. Dalam kesempatan itu, ia mengatakan Iran membuka ruang negosiasi damai dengan Israel dan Amerika Serikat.

Meski demikian, Pezeshkian menekankan perlunya jaminan bahwa serangan tidak akan terulang dari Tel Aviv dan Washington. Ia merujuk pada pengalaman Iran yang, menurutnya, diserang saat melakukan negosiasi dengan kedua pihak pada Februari 2026.

“Kita memiliki kemauan yang diperlukan untuk mengakhiri perang dengan mematuhi persyaratannya, khususnya jaminan untuk mencegah terulangnya agresi,” kata Pezeshkian.

Iran juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai ketidakkonsistenan sikap Amerika Serikat, yakni membahas negosiasi damai sambil mempersiapkan invasi darat. Teheran menegaskan tidak akan menerima tekanan atau “penghinaan” dari pihak mana pun, dan menyatakan masih mengingat serangan yang terjadi tak lama setelah negosiasi terkait pengembangan nuklir dengan Amerika Serikat.

Pezeshkian turut mengaitkan situasi di Selat Hormuz dengan tindakan permusuhan Amerika Serikat dan Israel. “Situasi di Selat Hormuz adalah akibat dari tindakan permusuhan dari Amerika-Israel. Iran diserang dua kali selama negosiasi, membuktikan bahwa mereka tidak percaya pada diplomasi,” tegasnya.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militernya, meski jalur vital energi global disebut belum sepenuhnya dibuka. Menurut laporan, opsi tersebut membuka kemungkinan bahwa pembukaan kembali jalur pelayaran akan ditangani pada tahap berikutnya, terpisah dari penghentian konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran.

Namun, Trump sebelumnya juga mengancam akan menghancurkan sejumlah fasilitas vital Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka. Ancaman itu mencakup pembangkit listrik, sumur minyak, sumber air bersih, hingga pusat ekspor minyak di Kharg Island.

Amerika Serikat juga dilaporkan mulai mengerahkan ribuan pasukan tambahan, termasuk 82nd Airborne Division. Pengerahan tersebut mencakup elemen markas, unit logistik, serta satu brigade tempur lengkap, dan disebut akan melengkapi ribuan personel marinir yang telah lebih dulu dikirimkan. Dengan perkembangan ini, kawasan Timur Tengah disebut menampung ribuan personel Amerika Serikat dari angkatan laut, pasukan khusus, dan unit lainnya.