Iran menegaskan belum ada pembicaraan resmi dengan Amerika Serikat (AS) dan menilai klaim negosiasi yang disampaikan Presiden Donald Trump sebagai informasi menyesatkan. Sikap ini mencerminkan meningkatnya kecurigaan Teheran terhadap pendekatan diplomasi Washington yang dinilai tidak konsisten.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan hingga kini tidak ada proses dialog yang berlangsung. Ia juga menilai narasi mengenai negosiasi sengaja digulirkan untuk memengaruhi pasar dan opini publik internasional.
Di sisi lain, laporan Axios yang dikutip Antara dari Anadolu menyebut Iran telah menyampaikan kepada sejumlah negara, termasuk Turki, Mesir, dan Pakistan, bahwa kepercayaan terhadap AS telah runtuh. Dua pengalaman sebelumnya yang disebut berujung pada aksi militer menjadi alasan utama.
Menurut laporan tersebut, pada Februari terjadi serangan gabungan AS dan Israel setelah kesepakatan awal terkait isu nuklir tercapai. Sementara pada Juni, operasi militer kembali dilakukan menjelang putaran negosiasi berikutnya. Rangkaian peristiwa ini memperkuat persepsi Teheran bahwa jalur diplomasi hanya digunakan sebagai taktik.
Ketegangan disebut memuncak setelah serangan pada 28 Februari yang menargetkan sejumlah wilayah, termasuk di Teheran. Serangan itu memicu balasan Iran ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Meski Trump mengklaim telah menunjuk tim negosiasi yang melibatkan sejumlah tokoh, antara lain Marco Rubio, JD Vance, Steve Witkoff, dan Jared Kushner, Iran tetap menolak narasi tersebut.
Bagi Teheran, peningkatan kehadiran militer AS di kawasan justru memperkuat dugaan bahwa tawaran damai merupakan bagian dari strategi tekanan, bukan upaya penyelesaian konflik yang tulus.

