Konflik geopolitik di Timur Tengah memasuki dimensi baru setelah Iran secara terbuka mengancam akan menargetkan proyek AI “Stargate” di Abu Dhabi. Proyek infrastruktur teknologi bernilai sekitar US$30 miliar itu didukung sejumlah pemain global, termasuk OpenAI, Oracle, dan NVIDIA, serta terkait dengan ekosistem perusahaan lain seperti Microsoft, AMD, dan Broadcom.
Ancaman tersebut disampaikan oleh pejabat Garda Revolusi Iran melalui sebuah video yang menampilkan simulasi lokasi proyek, disertai peringatan bahwa infrastruktur teknologi, energi, dan perusahaan ICT yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat dan Israel dapat menjadi target apabila eskalasi berlanjut. Ancaman itu juga dikaitkan dengan tekanan terhadap fasilitas energi Iran.
Perkembangan ini memperluas definisi target strategis dalam konflik modern. Jika sebelumnya persaingan dan ketegangan kerap berpusat pada energi, kini data center, cloud, dan infrastruktur AI mulai dipandang sebagai aset strategis yang rentan terdampak eskalasi geopolitik. Dengan keterlibatan perusahaan-perusahaan teknologi besar dalam proyek tersebut, risiko yang muncul dinilai tidak hanya terbatas pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi memengaruhi rantai pasok teknologi global.
Di sisi pasar keuangan, pada 8 April 2026 bursa saham Amerika Serikat menguat tajam setelah Presiden AS mengumumkan gencatan senjata sementara selama dua minggu dengan Iran. Sentimen itu memicu reli aset berisiko di Wall Street dan menekan harga minyak secara signifikan.
Dow Jones dilaporkan naik lebih dari 1.300 poin atau sekitar 2,9%. Pada saat yang sama, harga minyak Brent dan WTI turun sekitar 13–15%, yang disebut sebagai penurunan harian terbesar sejak 2020, setelah Iran setuju membuka kembali Selat Hormuz. Meski demikian, kesepakatan tersebut bersifat sementara dan belum menjamin stabilitas jangka panjang, sehingga pasar masih dibayangi potensi volatilitas apabila konflik kembali memanas.
Pada akhir pekan, lembaga internasional seperti World Bank memperingatkan konflik di Timur Tengah dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global sekitar 0,3% hingga 1%, bergantung pada durasi dan intensitas konflik. Peringatan itu juga menyoroti risiko inflasi yang lebih tinggi, mengingat harga energi sempat naik lebih dari 50% sejak awal eskalasi.
Kombinasi perlambatan pertumbuhan dan tekanan inflasi meningkatkan risiko skenario stagflasi global. Dalam kondisi tersebut, The Fed diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga, memperkuat narasi “higher for longer” yang berpotensi menekan valuasi saham, terutama di sektor growth dan teknologi.