International Organization for Migration (IOM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa rute migrasi di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) pada 2022 menjadi tahun paling mematikan, dengan hampir 4.000 migran dilaporkan tewas. Laporan itu disampaikan pada Selasa (13/6/2023).
Para migran meninggal di jalur laut maupun darat, termasuk saat menyeberangi Gurun Sahara dan Laut Mediterania. IOM menilai angka kematian kemungkinan lebih tinggi karena keterbatasan data resmi serta akses masyarakat sipil dan organisasi internasional ke rute-rute migrasi.
Menurut data IOM, terdapat 3.789 kematian yang dilaporkan pada 2022, menjadi angka tertinggi sejak 2017. Jumlah tersebut tercatat meningkat 11 persen dibandingkan 2021. IOM juga menyoroti bahwa banyak korban tidak dapat diidentifikasi. Direktur Global Data Institute, Koko Warner, menyatakan data menunjukkan 92 persen orang yang meninggal di rute ini tetap tidak teridentifikasi, sekaligus menegaskan pentingnya data dan analisis untuk mendorong tindakan lanjutan.
Di rute laut dari kawasan MENA menuju Eropa, IOM mencatat peningkatan insiden mematikan yang melibatkan kapal dari Lebanon menuju Italia dan Yunani. Sementara di jalur darat, jumlah kematian tertinggi tercatat di Yaman yang dilanda perang, dengan kekerasan terhadap migran disebut terus meningkat.
Sekitar 795 orang—kebanyakan warga Etiopia—dilaporkan kehilangan nyawa di rute antara Yaman dan Arab Saudi. Sebagian besar kematian terjadi di provinsi Saada, Yaman utara, wilayah yang dikuasai kubu pejuang Houthi. Dalam perjalanan ini, migran Afrika Timur umumnya menyeberangi Bab-Al Mandab menggunakan perahu kecil, melintasi selat sekitar 50 kilometer dari Djibouti ke Yaman, lalu melanjutkan perjalanan menuju Arab Saudi dan negara-negara Teluk Arab lainnya untuk mencari pekerjaan.
Di Afrika Utara, Libya menjadi lokasi dengan jumlah kematian tertinggi di rute darat, yakni 117 orang. Berikutnya Aljazair (54), Maroko (12), Tunisia (10), dan Mesir (9).
Direktur Regional IOM untuk MENA, Othman Belbeisi, menyatakan tingginya korban jiwa di jalur migrasi di dalam dan dari kawasan MENA menuntut perhatian segera serta upaya bersama untuk meningkatkan keselamatan dan perlindungan migran. IOM mendorong peningkatan kerja sama internasional dan regional untuk mengatasi krisis kemanusiaan tersebut guna mencegah hilangnya nyawa lebih lanjut.
IOM juga mencatat tren kematian migran yang meningkat signifikan pada 2018 hingga 2020, kemudian menurun pada 2021 yang dikaitkan dengan pengetatan aturan perjalanan selama COVID-19. Namun pada 2022, angka kematian kembali meningkat.

