Kepercayaan investor global terhadap fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap terjaga meski terjadi konflik di Timur Tengah dan tekanan global. Hal itu tercermin dari dua pengakuan internasional dalam waktu berdekatan, yakni proyeksi pertumbuhan dari Asian Development Bank (ADB) serta penilaian lembaga indeks global FTSE Russell.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, mengatakan stabilitas fundamental domestik menjadi faktor penting dalam menjaga keyakinan investor jangka panjang di tengah tantangan eksternal. “Di tengah lingkungan eksternal yang penuh tantangan, Indonesia membuktikan bahwa kestabilan fundamental domestik merupakan jangkar yang efektif dalam menjaga kepercayaan investor jangka panjang,” ujar Haryo, Selasa (14/4/2026).
Menurut Haryo, penilaian dari dua lembaga tersebut menjadi landasan optimisme pemerintah dalam menata perekonomian. ADB memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh stabil sebesar 5,2% pada 2026 dan 2027, meningkat dibanding realisasi 5,1% pada tahun sebelumnya.
Di sisi lain, FTSE Russell secara resmi mempertahankan status pasar modal Indonesia sebagai Secondary Emerging Market. Lembaga tersebut juga menyatakan tidak mempertimbangkan Indonesia untuk dimasukkan ke dalam Watch List penurunan status.
Haryo menekankan bahwa proyeksi ADB untuk Indonesia disusun berdasarkan skenario stabilisasi dini konflik Timur Tengah. Ia juga menyoroti bahwa angka proyeksi pertumbuhan Indonesia berada di atas proyeksi subregional Asia Tenggara yang diperkirakan sebesar 4,7% pada 2026.
Menurutnya, kondisi itu mencerminkan kekuatan struktural yang membedakan Indonesia dibandingkan mayoritas negara selevel di kawasan.