Arus perubahan besar disebut tengah berlangsung dalam lanskap ekonomi global, ditandai dengan investasi manufaktur bernilai triliunan dolar yang perlahan bergeser dari China. Perpindahan ini dinilai bukan sekadar relokasi pabrik, melainkan perubahan struktural yang mulai mengikis posisi China sebagai pusat produksi dunia.
Salah satu faktor yang disebut mempercepat tekanan berasal dari dinamika geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah. Ketegangan Iran dan Israel mengguncang pasar energi global dan memunculkan ketidakpastian bagi China, yang disebut menjadi importir utama minyak Iran dengan menyerap hampir 90% ekspor minyak laut negara tersebut. Ketergantungan ini membuat stabilitas pasokan energi menjadi titik rawan bagi operasi industri yang membutuhkan kepastian energi.
Dari sisi domestik, aktivitas manufaktur China juga digambarkan melemah. Indikator Purchasing Managers’ Index (PMI) disebut menunjukkan kontraksi selama berbulan-bulan. PMI di bawah 50 dipandang sebagai sinyal menyusutnya aktivitas, mulai dari penurunan pesanan hingga melambatnya produksi serta melemahnya kepercayaan industri.
Perlambatan pertumbuhan ekonomi turut memperkuat gambaran tersebut. Jika sebelumnya China identik dengan pertumbuhan dua digit, kini laju sekitar 5% disebut sebagai perlambatan serius. Proyeksi ke depan juga digambarkan mengarah pada tren penurunan lebih lanjut, yang dinilai menunjukkan persoalan struktural, bukan sekadar siklus ekonomi biasa.
Indikator lain yang disebut menonjol adalah merosotnya investasi asing langsung (FDI). Arus FDI yang sebelumnya mencapai ratusan miliar dolar disebut menyusut tajam, bahkan disebut turun lebih dari 90%. Penurunan ini dipandang mencerminkan perubahan persepsi investor yang kian melihat China sebagai lokasi dengan risiko yang semakin kompleks.
Tekanan juga datang dari fenomena deflasi, terutama di tingkat produsen. Penurunan harga produsen yang berlangsung bertahun-tahun disebut menggerus margin keuntungan, membuat pabrik tetap berproduksi namun dengan ruang laba yang semakin sempit. Kondisi ini mendorong persaingan harga ekstrem untuk bertahan, yang kerap disebut sebagai “involution”, ketika upaya kerja meningkat tetapi keuntungan tidak ikut membesar.
Di luar faktor ekonomi jangka pendek, persoalan demografi disebut menjadi akar yang lebih dalam. Populasi usia kerja China dilaporkan mulai menyusut, sementara usia median meningkat mendekati 40 tahun. Berkurangnya generasi muda yang sebelumnya menjadi tulang punggung manufaktur turut mendorong kenaikan biaya tenaga kerja, sehingga mengurangi keunggulan China sebagai basis produksi berbiaya rendah.
Perbandingan dengan negara lain seperti Vietnam dan India juga disebut membuat biaya tenaga kerja China semakin kurang kompetitif. Upah yang mendekati 4 dolar AS per jam disebut menjadi salah satu pertimbangan perusahaan untuk mencari alternatif, mengingat keputusan lokasi produksi sangat sensitif terhadap biaya.
Faktor geopolitik lain yang dinilai berpengaruh adalah kebijakan tarif perdagangan, terutama dari Amerika Serikat. Tarif tinggi disebut menciptakan ketidakpastian sehingga perusahaan tidak hanya menghitung efisiensi, tetapi juga risiko kebijakan yang bisa berubah. Dalam situasi ketika barang berpotensi dikenai tarif tinggi atau tertahan akibat konflik politik, diversifikasi rantai pasok dianggap menjadi pilihan yang logis.
Tekanan regulasi global juga disebut meningkat, termasuk tuntutan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang mendorong transparansi rantai pasok. Tuduhan pelanggaran hak asasi manusia di beberapa wilayah di China disebut menambah risiko reputasi dan hukum bagi perusahaan global, yang dapat berdampak pada operasi maupun citra merek di pasar internasional.
Sejumlah faktor tersebut mendorong strategi yang kerap disebut “China Plus One”, yaitu mempertahankan sebagian produksi di China sambil memperluas kapasitas ke negara lain. Meksiko disebut menjadi salah satu tujuan karena kedekatan dengan pasar Amerika Serikat, yang memungkinkan waktu pengiriman lebih cepat dan dinilai menawarkan risiko geopolitik yang lebih rendah.
Di Asia, India dan Vietnam disebut muncul sebagai tujuan penting. India disebut menawarkan pasar domestik besar serta insentif pemerintah yang agresif. Vietnam digambarkan berkembang sebagai pusat produksi elektronik dengan biaya tenaga kerja lebih rendah dan ekosistem industri yang semakin matang. Thailand dan Indonesia juga disebut mulai menarik investasi, terutama di sektor otomotif dan baterai kendaraan listrik.
Meski demikian, perpindahan manufaktur disebut tidak terjadi secara instan karena kompleksitas rantai pasok global. Banyak produk yang dirakit di luar China masih bergantung pada bahan baku atau komponen dari China. Karena itu, meski label negara asal dapat berubah, ketergantungan terhadap China disebut belum sepenuhnya hilang.
Dampak pergeseran ini dinilai besar bagi ekonomi domestik China. Manufaktur disebut menjadi fondasi bagi sistem keuangan, pasar properti, dan lapangan kerja. Ketika profit menurun, perusahaan disebut mulai mengurangi perekrutan, menekan upah, dan menunda investasi, yang kemudian merembet ke sektor lain.
Kondisi tersebut diperberat oleh krisis sektor real estate. Penurunan nilai properti disebut menghapus triliunan dolar kekayaan rumah tangga dan menekan konsumsi domestik. Ketika masyarakat merasa tidak aman secara finansial, kecenderungan menahan belanja meningkat, sehingga upaya mendorong konsumsi sebagai pengganti ekspor disebut menghadapi tantangan.
Di tengah tekanan, pemerintah China disebut berupaya melakukan transformasi menuju ekonomi berbasis teknologi. Investasi besar diarahkan ke sektor seperti kecerdasan buatan, kendaraan listrik, dan energi terbarukan, dengan tujuan mengurangi ketergantungan pada model lama yang bertumpu pada tenaga kerja murah dan produksi massal.
Namun, transisi ini disebut tidak mudah karena pergeseran ke industri berteknologi tinggi membutuhkan keterampilan berbeda. Hal ini disebut memunculkan kesenjangan antara pekerja lama dan kebutuhan industri baru, sehingga sebagian pekerja berpotensi beralih ke sektor informal dengan produktivitas rendah dan menimbulkan risiko sosial.
Pada saat yang sama, keberhasilan China di sektor teknologi juga disebut memicu reaksi dari negara lain. Pengenaan tarif tinggi terhadap kendaraan listrik dan produk teknologi China menjadi indikasi bahwa persaingan global kian ketat, tidak hanya pada biaya produksi, tetapi juga pada penguasaan teknologi dan pengaruh geopolitik.

