Kepala Badan Intelijen Nasional Turkiye (MIT) Ibrahim Kalin memperingatkan bahwa perang yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran berisiko berkembang menjadi krisis global dengan dampak luas bagi dunia. Peringatan itu disampaikan Kalin dalam pidatonya pada Stratcom Summit 2026 di Istanbul, Sabtu.
Menurut Kalin, konflik yang berlangsung sejak akhir Februari berpotensi meluas dan membawa konsekuensi besar jika tidak segera dihentikan. Ia menyebut perang tersebut bergerak cepat dari konflik regional menuju krisis berskala global.
“Sayangnya, perang regional yang dipicu Israel ini dengan cepat bergerak menuju krisis global,” kata Kalin. Ia juga mengingatkan konflik dapat berubah menjadi “perang yang harus dibayar oleh 8 miliar manusia.”
Kalin mengatakan Turkiye terus melakukan upaya diplomatik intensif untuk mencegah eskalasi dan menghentikan penyebaran konflik ke kawasan yang lebih luas. Ia menilai dunia telah melewati berbagai krisis besar sejak pandemi, termasuk perang Rusia-Ukraina yang memasuki tahun kelima tanpa kejelasan akhir, serta konflik Israel dan Hamas sejak Oktober 2023 yang dampaknya masih dirasakan.
Ia juga menyinggung perang Israel-Iran selama 12 hari pada Juni lalu yang disebutnya menjadi uji awal bagi konflik yang kini berlangsung. “Kita saat ini berada di tengah perang Israel/AS-Iran yang dimulai pada 28 Februari dan telah berlangsung sekitar satu bulan,” ujar Kalin.
Dalam pandangannya, salah satu dampak paling berbahaya dari konflik ini adalah potensi munculnya perpecahan berkepanjangan di kawasan. Kalin menilai persoalan tidak hanya terkait kapasitas nuklir Iran, tetapi juga langkah-langkah yang dapat membuka jalan bagi konflik saudara dalam jangka panjang di antara kelompok-kelompok utama kawasan.
“Bukan hanya soal kapasitas nuklir Iran, tetapi lebih berbahaya lagi adalah langkah-langkah yang membuka jalan bagi konflik saudara selama puluhan tahun di antara bangsa-bangsa utama kawasan seperti Turki, Kurdi, Arab, dan Persia,” katanya.
Kalin menegaskan Turkiye tidak akan menjadi pihak yang memperkeruh konflik. “Turkiye tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi pihak yang menyulut api perpecahan,” ujarnya.
Ia juga menyatakan perang terhadap Iran tidak memiliki dasar hukum dalam hukum internasional. Selain itu, Kalin memperingatkan adanya upaya menciptakan fakta baru di lapangan melalui kebijakan penghancuran, aneksasi, dan pendudukan di wilayah seperti Lebanon, Suriah, dan Palestina.
Dalam konteks Palestina, Kalin menegaskan Turkiye tidak akan membiarkan hak-hak rakyat Palestina diabaikan, baik di Gaza maupun Tepi Barat.
Di sisi lain, Kalin turut mengkritik serangan Iran ke negara-negara Teluk, namun menekankan pentingnya melihat akar konflik. “Serangan Iran terhadap negara-negara Teluk tidak dapat diterima, tetapi kita tidak boleh melupakan siapa yang memulai perang ini,” katanya.
Kalin menyatakan dukungan terhadap upaya diplomasi, termasuk inisiatif Pakistan, namun menuding Israel berupaya menggagalkan pembukaan jalur dialog.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan bersama ke Iran yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang. Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Selain membahas konflik, Kalin juga menyoroti krisis komunikasi global di era modern. “Kita hidup di zaman di mana informasi melimpah, tetapi pengetahuan menurun dan kebijaksanaan hampir menghilang,” ujarnya. Ia menekankan komunikasi tidak hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga membangun makna dan narasi.

