Intelijen Amerika Serikat mendeteksi dugaan persiapan China untuk mengirimkan sistem pertahanan udara terbaru ke Iran dalam beberapa pekan ke depan. Informasi tersebut dilaporkan pertama kali oleh CNN dengan mengutip tiga sumber yang mengetahui penilaian intelijen terbaru.
Menurut laporan itu, Beijing diduga tengah menyusun skema pengiriman melalui negara ketiga untuk menyamarkan asal-usul persenjataan. Cara tersebut dinilai sebagai upaya menghindari sorotan internasional di tengah eskalasi konflik yang masih berlangsung.
Jenis persenjataan yang disebut disiapkan adalah sistem rudal pertahanan udara jarak pendek yang dapat dipanggul, dikenal sebagai MANPADS (Man-Portable Air Defense Systems). Senjata ini berpotensi meningkatkan kemampuan Iran menghadapi ancaman udara, termasuk drone dan pesawat tempur.
Hingga berita ini diturunkan, Departemen Luar Negeri AS (U.S. State Department), Gedung Putih (White House), serta Kedutaan Besar China di Washington belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan konfirmasi.
Kabar terkait penilaian intelijen tersebut muncul pada momen yang dinilai sensitif. Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan menggelar perundingan tingkat tinggi pada Sabtu di Islamabad, Pakistan, dengan agenda mencari jalan keluar dari perang yang telah berlangsung enam pekan.
Perkembangan ini disebut berpotensi memperumit upaya diplomasi dan memunculkan kekhawatiran baru mengenai keterlibatan kekuatan besar dalam konflik di kawasan Timur Tengah.
Dalam perkembangan lain terkait situasi keamanan, sejumlah prajurit Amerika Serikat yang selamat dari serangan drone Iran di Kuwait menyampaikan kesaksian yang membantah narasi resmi Pentagon. Kepada CBS News, mereka menggambarkan kondisi kacau saat sebuah drone Iran menghantam pusat operasi taktis pada 1 Maret, menewaskan enam anggota Cadangan Angkatan Darat AS dan melukai lebih dari 20 prajurit lainnya.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan serangan itu disebabkan oleh sebuah drone “squirter” yang secara anomali berhasil menembus sistem pertahanan unit yang disebutnya telah diperkuat. Namun, versi tersebut ditolak oleh para korban selamat, yang menyebut unit mereka tidak siap mempertahankan diri dan tidak berada di posisi yang diperkuat.
Menurut pengakuan para prajurit, mereka ditempatkan di deretan bangunan kecil berbahan seng untuk membangun kantor darurat menjelang dimulainya Operasi Epic Fury. Mereka juga mempertanyakan keputusan komando yang tetap menempatkan mereka dalam jangkauan rudal dan drone Iran, dengan salah seorang mengaku pernah melihat laporan intelijen yang mencantumkan pos tersebut sebagai target potensial.