BERITA TERKINI
Industri Reksadana Mulai Pulih pada April 2026, Investor Muda Kian Mendominasi Pasar Modal

Industri Reksadana Mulai Pulih pada April 2026, Investor Muda Kian Mendominasi Pasar Modal

Industri pasar modal Indonesia dinilai tetap menunjukkan resiliensi di tengah dinamika ekonomi global yang sarat ketidakpastian. Tren pemulihan juga mulai terlihat pada industri reksadana pada akhir April 2026.

Hingga 24 April 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah investor pasar modal telah melampaui 26,1 juta orang. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan posisi akhir 2025 yang berada di kisaran 20,3 juta investor.

Komposisi investor juga didominasi kelompok usia muda. Lebih dari 54% hingga 57% dari total investor tercatat berusia di bawah 30 tahun.

Plt. Presiden Direktur PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) Danica Adhitama menilai partisipasi aktif investor muda menjadi indikasi bahwa literasi keuangan mulai berdampak, dengan pasar modal dipilih sebagai instrumen untuk menumbuhkan aset.

Meski kinerja sejumlah instrumen reksadana secara tahun berjalan (year-to-date/ytd) masih tertekan, data April 2026 menunjukkan perbaikan melalui pertumbuhan bulanan yang positif. Nilai Aktiva Bersih (NAB) industri reksadana tercatat mencapai Rp 711,89 triliun, naik sekitar 2,32% secara bulanan (month-to-date). Pertumbuhan ini disebut didorong oleh aktivitas penempatan dana atau net subscription sebesar Rp 8,11 triliun sepanjang April.

Dari sisi kelas aset, reksadana pasar uang masih menjadi pilihan utama bagi investor yang mengutamakan stabilitas. Kategori ini naik 0,32% secara bulanan dan menjadi satu-satunya yang konsisten tumbuh positif secara ytd, yakni 1,33%.

Sementara itu, reksadana saham mulai menunjukkan technical rebound dengan kenaikan bulanan tertinggi mencapai 0,86%. Namun, secara ytd kinerjanya masih berfluktuasi seiring situasi perkembangan geopolitik.

Danica menyebut stabilnya kondisi suku bunga menjadi salah satu faktor yang membuat pasar lebih lega, meski pengelola investasi tetap menerapkan strategi selektif dalam pengelolaan portofolio.

Ia juga menyoroti faktor aksesibilitas sebagai alasan reksadana lekat dengan Gen Z dan Milenial. “Alasan utama reksadana menjadi instrumen yang begitu lekat dan cocok bagi kalangan Gen Z dan Milenial di era digital ini terletak pada aksesibilitas dan kemudahan,” ujar Danica dalam keterangan resmi, Selasa (12/5/2026).

Menurutnya, kemudahan verifikasi data melalui ponsel pintar serta pilihan investasi yang dapat dimulai dengan modal Rp 10.000 menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi digital native. Dana yang biasanya digunakan untuk konsumsi harian, kata Danica, dapat dialihkan menjadi unit penyertaan reksadana yang berpotensi berkembang dalam jangka panjang.

Selain modal, Danica menilai aspek profesionalisme turut menjadi pertimbangan. Di tengah kemudahan akses, risiko tetap ada. Bagi investor muda yang memiliki keterbatasan waktu atau belum mendalami mekanisme pasar, reksadana menawarkan pengelolaan dana melalui manajer investasi.

Reksadana juga dinilai memberikan transparansi yang dibutuhkan investor muda, antara lain melalui pemantauan histori transaksi, pengecekan portofolio secara real-time, serta fitur auto-debit yang mendukung kebiasaan investasi rutin.

Dengan ragam produk—mulai dari pasar uang yang konservatif hingga saham yang agresif—reksadana memungkinkan investor menyesuaikan pilihan dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.

Danica menilai, tren pemulihan pada April 2026 dan dominasi investor muda dapat menjadi sinyal berlanjutnya peran reksadana dalam mendorong inklusi keuangan di Indonesia. “Melihat tren pemulihan di April 2026 dan dominasi investor muda yang kian masif, industri reksadana diprediksi akan terus menjadi tulang punggung inklusi keuangan di Indonesia,” pungkasnya.