PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menilai sinergi kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci untuk menjaga stabilitas sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, Ari Rizaldi, mengatakan koordinasi kebijakan antara pemerintah dan regulator, termasuk Bank Indonesia (BI) serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perlu terus diperkuat agar respons terhadap tekanan global dapat berjalan efektif.
“Dengan sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif, kami meyakini pertumbuhan ekonomi dapat terus terjaga secara keseluruhan,” ujar Ari dalam acara Indonesia Economic Outlook Bank Mandiri, Senin (11/5/2026).
Ari menyoroti salah satu tantangan global yang perlu diwaspadai saat ini, yakni konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dunia melonjak hingga menembus level US$ 100 per barel. Kenaikan harga minyak tersebut dinilai turut memicu volatilitas di pasar keuangan global dan berpotensi memberi tekanan pada perekonomian berbagai negara, termasuk Indonesia.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, ia menekankan pentingnya koordinasi pemerintah dengan BI dan OJK agar kebijakan yang diterapkan saling mendukung serta tidak tumpang tindih.
“Ke depan, tantangan global akan terus ada. Namun di balik setiap tantangan juga terdapat peluang yang dapat dioptimalkan melalui strategi yang tepat,” katanya.
Di sektor perbankan, Ari melihat indikasi pemulihan aktivitas intermediasi yang tercermin dari pertumbuhan kredit industri perbankan yang mulai meningkat. Berdasarkan data OJK, kredit industri perbankan tumbuh 9,49% secara tahunan (year on year/YoY) pada Maret 2026, lebih tinggi dibanding Februari 2026 yang sebesar 9,37% YoY.
Selain kredit, kondisi pendanaan perbankan dinilai masih solid. Dana pihak ketiga (DPK) industri perbankan tercatat tumbuh 13,55% YoY pada Maret 2026. Sementara itu, likuiditas industri perbankan juga tetap terjaga, dengan rasio alat likuid terhadap dana non-core deposit (AL/NCD) berada di level 84,63%.