Industri perhotelan Indonesia menunjukkan sejumlah penyesuaian di tengah gejolak ekonomi global. Country Manager SiteMinder Indonesia, Fifin Prapmasari, menilai perubahan perilaku wisatawan—terutama dari pasar domestik—membuka peluang baru bagi hotel dalam menyusun strategi penawaran dan harga.
Menurut Fifin, beberapa indikator terlihat dari menurunnya jumlah pembatalan, pemesanan yang dilakukan semakin dekat dengan tanggal menginap, serta durasi tinggal yang cenderung lebih singkat. Pola tersebut, kata dia, mencerminkan semangat wisatawan lokal untuk menjelajahi destinasi di dalam negeri.
Situasi ini dinilai memberi ruang bagi hotel untuk lebih kreatif dalam merancang paket dan promosi yang relevan dengan kebutuhan wisatawan domestik. Peningkatan permintaan perjalanan dalam negeri memungkinkan penerapan harga yang lebih menyesuaikan kebutuhan, sekaligus memanfaatkan pemahaman hotel terhadap preferensi pasar lokal untuk menonjolkan fasilitas unik yang dimiliki.
“Selain itu sekaligus merancang berbagai penawaran yang menarik dan tidak hanya memaksimalkan pemasukan per tamu tetapi juga memberikan pengalaman menginap yang menyenangkan. Wisatawan domestik merupakan kekuatan yang signifikan, dan hotel sebaiknya memanfaatkan pertumbuhan mereka, sama seperti yang mereka lakukan untuk tamu internasional yang terus mendominasi pangsa permintaan secara keseluruhan,” ujar Fifin, dikutip Rabu (18/3/2026).
Di sisi lain, laporan SiteMinder juga mencatat perubahan distribusi permintaan menginap pada periode pertengahan tahun. Meski Juli dan Agustus tetap menjadi bulan puncak pariwisata Indonesia pada 2025, permintaan penginapan disebut lebih merata sepanjang periode tersebut.
Data menunjukkan porsi pemesanan hotel pada Agustus turun menjadi 9,31 persen dari 9,42 persen pada 2024. Sementara itu, pemesanan pada Juni naik secara tahunan dari 8,80 persen menjadi 8,98 persen. Periode Juli mencatat pangsa tertinggi sebesar 9,36 persen, meningkat dari 9,29 persen.
Untuk awal tahun, Januari mencatat pertumbuhan tahunan tertinggi. Pangsa pemesanan pada bulan tersebut naik 15 persen menjadi 7,69 persen, yang disebut didukung oleh liburan Tahun Baru yang diperpanjang serta perayaan Tahun Baru Imlek yang lebih awal.
Fifin menilai distribusi pemesanan yang lebih merata di pertengahan tahun menggambarkan evolusi pola pemesanan yang terus berlangsung. Ia menyebut pemesanan yang dilakukan lebih awal mengindikasikan wisatawan semakin strategis dalam menyusun rencana perjalanan, termasuk mencari suasana yang tidak terlalu ramai dan harga yang lebih baik.
“Distribusi pemesanan yang lebih merata di pertengahan tahun memberikan gambaran tentang evolusi pola pemesanan yang sedang berlangsung. Pemesanan yang dilakukan lebih awal menunjukkan bahwa wisatawan semakin strategis dalam merencanakan perjalanan, dengan mencari suasana yang tidak terlalu ramai dan harga yang lebih baik,” tuturnya.
Ia menambahkan, kondisi ini membuat hotel tidak dapat lagi bergantung pada pendekatan yang statis dalam menarik tamu. Menurutnya, pelaku usaha perlu tetap responsif terhadap perubahan permintaan, termasuk potensi lonjakan pemesanan yang bisa terjadi di luar perkiraan, seperti yang terlihat pada Januari.
Selain pola permintaan, laporan yang sama juga mengungkap sumber pemesanan hotel yang menghasilkan pendapatan terbesar bagi properti di Indonesia pada 2025. Dalam daftar 12 sumber pemesanan teratas, platform lokal seperti Traveloka dan Tiket.com disebut tetap mempertahankan posisinya. Temuan ini menyoroti menguatnya pengaruh narasi “lokal” dalam perjalanan domestik dan permintaan hotel.

